Mehdi Mohammadi, penasihat ketua parlemen Iran, menyatakan bahwa tidak ada kerusakan yang tak dapat dipulihkan, karena situs-situs telah dievakuasi lebih dulu.
Natanz, Pusat Uranium Iran
Natanz, fasilitas pengayaan uranium terbesar Iran, berada di Provinsi Isfahan. Dalam serangan 15 Juni lalu, bagian atas tanah dari fasilitas ini dihancurkan oleh Israel. IAEA melaporkan bahwa gedung pembangkit listrik utama, gardu induk, serta sistem cadangan daya juga ikut hancur. Meski aula bawah tanah tidak langsung terkena, hilangnya pasokan listrik berpotensi merusak sentrifus pengayaan.
Isfahan, Fasilitas Penelitian Strategis
Pusat Teknologi Nuklir Isfahan menjadi target serangan untuk ketiga kalinya sejak 13 Juni. Fasilitas ini memainkan peran penting dalam menyiapkan bahan baku pengayaan dan reaktor riset.
Bom Penghancur Bunker Jadi Andalan
AS menggunakan B-2 Spirit yang membawa bom Massive Ordnance Penetrator seberat 13,6 ton—senjata penghancur bunker terkuat di dunia. Hanya AS yang diketahui memiliki bom ini. Serangan juga didukung rudal Tomahawk dari kapal selam di kawasan.
Tidak Ada Radiasi, Iran Tegas Melanjutkan Program
Otoritas nuklir Iran menyatakan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda kontaminasi atau risiko radiasi di sekitar lokasi. “Tidak ada bahaya bagi warga sekitar,” tulis badan nuklir Iran di media sosial.
Dalam pernyataan terpisah, Organisasi Energi Atom Iran menegaskan bahwa program nuklir tetap berlanjut. “Meskipun musuh mencoba menghentikan, darah para martir nuklir dan semangat para ilmuwan akan menjaga keberlangsungan industri ini.”
IAEA juga memastikan bahwa tidak ada peningkatan radiasi di ketiga lokasi yang diserang.
Konflik ini terjadi di tengah perang udara antara Israel dan Iran yang telah berlangsung lebih dari sepekan. Hingga kini, lebih dari 400 orang tewas di Iran dan 24 korban jiwa dilaporkan di Israel. Enam ilmuwan Iran, termasuk dua ahli nuklir terkemuka, turut menjadi korban serangan udara.***





