Iran Kecam Serangan AS dan Tolak Berunding, Menlu Araghchi Bertolak ke Moskwa Temui Putin

Kobaran api membumbung dari fasilitas penyimpanan minyak setelah diduga terkena serangan Israel di Teheran, Iran, pada Ahad dini hari, 15 Juni 2025. | AP/Vahid Salemi
Iran tegas mengecam serangan AS-Israel ke fasilitas nuklir mereka dan menyebut agresi itu melanggar hukum internasional. Menlu Araghchi bertolak ke Moskwa temui Putin, dan menolak kembali ke meja perundingan.

__________

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan akan melakukan kunjungan mendesak ke Moskwa untuk bertemu langsung dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Senin, 23 Juni 2025 ini. 

Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi pada Ahad, 22 Juni, di tengah meningkatnya ketegangan akibat serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.

Bacaan Lainnya

“Serangan ini telah melewati garis merah besar,” kata Araghchi dalam pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, dikutip kantor berita AFP. 

Beberapa jam sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa jet tempur AS menargetkan tiga lokasi terkait program nuklir Iran. Serangan tersebut terjadi sembilan hari setelah Israel meluncurkan gelombang pengeboman serupa. 

Araghchi menyebut serangan terbaru ini sebagai ‘yang paling serius’ sejauh ini—meski ia mengaku belum memperoleh data rinci terkait dampaknya terhadap situs pengayaan uranium di Fordo.

“Iran akan membela diri dengan segala cara yang diperlukan,” tegasnya. 

Ia menuding serangan tersebut melanggar hukum internasional dan membahayakan stabilitas global. Araghchi juga menolak tekanan untuk kembali ke meja perundingan. Pasalnya, kata dia, kepercayaan terhadap proses diplomasi telah dirusak oleh tindakan AS.

“Dunia harus ingat, Amerika-lah yang menghancurkan upaya diplomatik dengan mendukung agresi Israel terhadap Iran,” ujarnya.

Sementara itu, pemerintah Turkiye, yang menjadi tuan rumah pertemuan OKI, menyatakan keprihatinan atas eskalasi yang terjadi. Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Turkiye memperingatkan bahwa konflik tersebut dapat berkembang menjadi krisis berskala global.

“Kami tidak ingin melihat skenario bencana ini menjadi kenyataan,” sebut Ankara.***

Pos terkait