Ketua Indonesian Mining and Energy Forum Singgih Widagdo menyalahkan kesalahan pengelolaan RKAB sebagai pemicu utama penurunan hari operasi pembangkit, meski levelnya berbeda di tiap PLTU.
Di luar Jawa, faktornya lain lagi. Byarpet berkepanjangan di Sumatera Utara dipicu kerusakan jaringan akibat cuaca ekstrem—bukan soal batu bara sama sekali.
Jadi krisis ini berlapis: tekanan harga DMO, pemangkasan produksi, gangguan teknis pembangkit swasta, sampai infrastruktur jaringan yang menua. Tapi jebakan harga DMO-HBA yang paling jarang disorot media arus utama—dan di situlah akar struktural sesungguhnya bersembunyi.
Celah yang Masih Gelap
Ada beberapa titik yang masih layak dikejar lewat data primer, bukan sekadar pernyataan pejabat di depan kamera.
Pertama, soal realisasi kontrak. Pemerintah menerbitkan penugasan hingga 190 juta ton kepada penambang, tapi kontrak resmi yang ditandatangani baru 134 juta ton. Siapa saja pemasok besar yang disebut “aman,” dan benarkah pengiriman mereka sesuai jadwal?
Kedua, ada jejak menarik di ranah hukum. Pengadilan Negeri Kota Bekasi baru saja memutuskan, pada 18 Juni 2026, bahwa PT Bina Karya Prima terbukti wanprestasi dan wajib membayar Rp11,1 miliar kepada pemasoknya, PT Wahana Sumber Rezeki, atas keterlambatan pembayaran 207 kali pengiriman batu bara sejak 2025.
Kasus semacam ini bisa jadi indikasi kecil dari persoalan arus kas yang lebih luas di rantai pasok batu bara domestik—pola yang layak ditelusuri lebih jauh, bukan disimpulkan terburu-buru.
Ketiga, kenapa proyeksi 15,9 hari operasi di April begitu jauh dari kenyataan Juni? Apakah ini soal data yang keliru, atau eksekusi kontrak yang molor tanpa pernah dilaporkan terbuka ke publik dan DPR?
Yang Sebenarnya Dipertaruhkan
Klaim soal krisis batu bara bukan isapan jempol. Ada angka konkret—134 dari 154 juta ton kebutuhan—dan akhirnya diakui sendiri oleh ESDM dan PLN setelah delapan hari membantah.
Tapi yang lebih penting dibaca publik bukan cuma soal stok. Ini soal siapa yang berkuasa menentukan ke mana batu bara hasil bumi Indonesia mengalir—ke kapal ekspor yang membayar mahal, atau ke pembangkit yang menerangi rumah rakyat sendiri.





