Program Makan Bergizi Gratis dongkrak belanja kementerian/lembaga hingga Rp1.498 triliun.
__________
Pemerintah menetapkan belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 sebesar Rp 1.498,2 triliun.
Dari total tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) muncul sebagai penerima pagu anggaran terbesar, mencapai Rp 268 triliun. Lonjakan ini signifikan dibanding outlook 2025 yang hanya Rp116,64 triliun.
BGN sendiri baru diresmikan setahun lalu, tepatnya 15 Agustus 2024. Lembaga ini dibentuk untuk mengawal program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni makan bergizi gratis (MBG). Sesuai target, program ini diharapkan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat, mulai dari siswa sekolah, ibu hamil, hingga balita.
Alokasi dana khusus MBG pada 2026 tercatat Rp 335 triliun, naik hampir lima kali lipat dari tahun berjalan yang hanya Rp 71 triliun. Besarnya angka itu menjadikan BGN melampaui Kementerian Pertahanan dan Kepolisian yang sebelumnya selalu menduduki posisi teratas.
Secara keseluruhan, terdapat 102 K/L yang mendapat alokasi belanja Rp 1.498,2 triliun dalam RAPBN 2026. Dari jumlah itu, 10 K/L terbesar menyedot Rp 1.172,8 triliun atau 78 persen total belanja.
Berikut daftar 10 K/L dengan anggaran terbesar 2026:
- BGN Rp 268 triliun (naik dari Rp 116,64 triliun).
- Kementerian Pertahanan Rp 185 triliun (turun dari Rp 247,5 triliun).
- Polri Rp 145,7 triliun (naik dari Rp 138,54 triliun).
- Kementerian PUPR Rp 118,5 triliun (naik dari Rp 85,73 triliun).
- Kementerian Kesehatan Rp 114 triliun (naik dari Rp 86,08 triliun).
- Kementerian Agama Rp 88,77 triliun (naik dari Rp 69,83 triliun).
- Kementerian Sosial Rp 84,44 triliun (naik dari Rp 79,59 triliun).
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Rp 61 triliun (naik dari Rp 52,9 triliun).
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Rp 55 triliun (naik dari Rp 47,02 triliun).
- Kementerian Keuangan Rp 52 triliun (turun dari Rp 71,4 triliun).
Dengan skema ini, wajah RAPBN 2026 jelas menunjukkan pergeseran prioritas. Dari belanja pertahanan yang sebelumnya dominan, kini fokus bergeser pada pembangunan manusia melalui gizi dan pendidikan.***





