Eksistensi Wali Songo dalam Historiografi Jawa
Terlepas dari banyaknya versi genealogi Wali Songo itu, yang pasti eksistensi para wali itu adalah fakta dan mereka punya peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Fakta ini membantah pendapat yang menyebut mereka adalah tokoh fiktif.
Sebagaimana tercatat dalam historiografi Jawa, Cirebon, dan Banten, kehadiran Raden Rahmat dan kakaknya, Raden Ali Murtadho, dari Champa ke Jawa sekitar tahun 1440 M, adalah tonggak dimulainya proses dakwah Islam secara masif dan teroganisir di Nusantara. Kisah tentang kehadiran dua bersaudara putra Syekh Ibrahim as-Samarqandi tersebut dipaparkan panjang lebar dalam Babad Tanah Jawi, Serat Kandha, Babad Ngampeldenta, Babad Risaking Majapahit, Serat Kandhaning Ringgit Purwa, Babad Tjerbon, Sadjarah Banten, dan Pustaka Nagara Kretabhumi. Seluruh karya sastra tersebut juga menceritakan tentang para putra, menantu, kemenakan, kerabat, serta murid-murid dua bersaudara tersebut—yang kemudian disebut sebagai wali-wali penyebar dakwah Islam di Nusantara—secara rinci.
Bersama generasi penerusnya, keduanya menjadikan dakwah Islam sebagai sebuah arus besar untuk mengubah tatanan masyarakat Jawa khususnya, dan masyarakat Nusantara pada umumnya. Setelah kedatangan Raden Rahmat dan Raden Ali Murtadho ke Jawa—di mana Raden Rahmat kemudian diangkat menjadi Imam Masjid di Surabaya dan dikenal sebagai Sunan Ampel; sementara Raden Ali Murtadho diangkat menjadi Raja Pandhita di Gresik dan dikenal sebagai Sunan Gresik—Islam mulai dianut oleh kalangan elite pribumi di kalangan keluarga Raja Majapahit, yang selanjutnya dianut pula oleh pribumi secara luas.
Momentum yang paling menentukan bagi perkembangan dakwah Islam secara masif di Jawa adalah ketika penguasa Majapahit, Bhre Kertabhumi (1474-1478 M), terlibat perseteruan dengan penguasa Kediri, Dyah Ranawijaya Girindrawarddhana. Puncak perseteruan tersebut adalah berlangsungnya serbuan besar-besaran pasukan Kediri ke Kotaraja Majapahit pada tahun 1478 M.
Bhre Kertabhumi menghilang setelah penyerbuan itu sehingga menyebabkan ketidakpastian hukum dan politik. Dyah Ranawijaya sendiri, setelah menghancurkan kekuasaan Bhre Kertabhumi, memindahkan kekuasaan Majapahit ke daerah pedalaman Jawa, di Kediri. Dia tak lagi mengurus wilayah pesisir, tetapi fokus di pedalaman.
Kondisi politik inilah yang menjadi salah satu faktor pesatnya pertumbuhan masyarakat Muslim di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, terutama di wilayah Demak Bintara. Raden Patah, penguasa Demak Bintara yang masih satu keluarga dengan Dyah Ranawijaya—sama-sama keturunan Brawijaya V—memanfaatkan momentum kemerosotan Majapahit itu dengan memperkuat Demak—kerajaan di pesisir utara Pulau Jawa yang tak diurus oleh Kediri—sebagai pusat kekuasaan Islam di Jawa. Momentum tersebut ditandai dengan dimulainya pembangunan Masjid Agung Demak. Masjid tersebut dibangun oleh Pemerintah Demak bersama Wali Songo. Pembangunan rampung pada tahun 1401 Saka atau 1479 Masehi, setahun setelah kehancuran Kotaraja Majapahit.
Dengan berdirinya Masjid Agung Demak, masyarakat Islam di Jawa menjadi berdaulat, tidak lagi berada di bawah kekuasaan Majapahit. Sejak saat itulah dakwah Islam berkembang semakin pesat, di mana Wali Songo turun tangan langsung mengislamkan Pulau Jawa khususnya, dan Nusantara pada umumnya.[…bersambung…]
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





