Di media sosial, sejumlah lokasi lain ikut disorot. Ada bangunan yang disebut berdiri di kawasan perbukitan, dekat pemakaman, hingga berada di area yang minim permukiman. Konten-konten itu menyebar cepat karena menghadirkan ironi yang mudah dipahami: gerai ekonomi dibangun, tetapi calon pengunjungnya harus lebih dulu menaklukkan medan.
Ferry mengatakan kementeriannya tidak akan mengabaikan keluhan tersebut. Pemerintah akan memverifikasi lokasi-lokasi yang dipersoalkan untuk menilai kelayakan akses dan kemungkinan perbaikan.
“Nanti kita pikirkan, kita carikan solusinya, tapi itu kan ada proses verifikasi-validasi melibatkan pemerintahan dan lembaga yang lain juga, dan kita akan kembali bermusyawarah dengan masyarakat desa dan kepala desanya,” ujar Ferry.
Ia belum memastikan apakah bangunan yang dinilai kurang strategis akan dipindahkan. Keputusan akan diambil setelah verifikasi dan pembahasan dengan pemerintah desa serta warga.
Bangunan Sudah Ada, Operasional Menunggu
Pemerintah mengejar pembangunan puluhan ribu Kopdes Merah Putih sebagai simpul ekonomi desa. Koperasi itu tidak dirancang hanya sebagai toko, melainkan juga tempat penampungan produk warga, pergudangan, distribusi, layanan keuangan mikro, hingga sarana penggerak usaha desa.
Karena itu, lokasi bukan detail pelengkap. Bangunan dapat selesai lebih cepat daripada kebiasaan warga mendatanginya. Gudang dapat berdiri, tetapi hasil panen belum tentu datang sendiri. Gerai bisa dibuka, namun pembeli tetap memerlukan jalan yang masuk akal untuk sampai ke sana.
Ferry mengatakan pemerintah akan mencari jalan keluar untuk titik-titik yang dianggap kurang ideal. “Kita akan kembali bermusyawarah dengan masyarakat desa dan kepala desanya juga,” katanya.***





