Buku Sebelum “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”
Buku Current Biography Yearbook, misalnya. Dalam buku yang ditulis oleh kontributor bernama Anna Herthe Rothe, H.W. Wilson Company, Marjorie Dent Candee, dan Maxine Block, diterbitkan oleh H. W. Wilson Company (1948), tertulis entri “Soekarno (Soo-kar’no) 1902, Presiden Republik Indonesia”. Data tersebut ada pada halaman misalnya 590.

Pada halaman 14 buku U.S. News & World Report Volume 40, terbitan U.S. News Publishing Corporation (1956), juga tertulis bahwa Sukarno lahir di Jawa tahun 1902. Buku tersebut telah didigitalisasi oleh the University of Virginia pada 10 Februari 2011.

Sementara itu, The World Book Encyclopedia And Reading and Study Guide, Volume 9, terbitan Field Enterprises Educational Corporation (1959), mencatat tahun kelahiran Sukarno sama dengan Mohammad Hatta yaitu 1902. Catatan tercantum halaman 3745. Buku ini telah didigitalisasi oleh University of Illinois at Urbana-Champaign pada 21 Juli 2016.

Buku Setelah “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”
Sejarawan Malaysia, M. Awat Ram, dalam buku Leaders of Asia, yang diterbitkan Educational Mart edisi pertama (1965) dan edisi kedua (1968), halaman 31 menulis, “Soekarno yang lahir di Surabaya, bagian Timur Pulau Jawa, pada tahun 1902. Ibunya beragama Hindu, lahir di Bali”.
Buku ini sudah beredar dalam bentuk digital, diterbitkan oleh University of Michigan pada 28 Maret 2005. Nama Achmad Soekarno ditulis sebagai tokoh nomor tiga setelah Mohandas K. Gandhi dan Ho Chi Minh.
Dalam Asia & Pacific Review, terbitan World of Information (1986), halaman 121, tertulis Achmed Sukarno (1902-1970).

Terakhir, dalam buku The Riverside Dictionary of Biography: A Comprehensive Reference Covering 10.000 of the World Most Important People from Ancient Times to the Present Day, yang dirilis the American Heritage Dictionary, yang diterbitkan oleh Houghton Mifflin Harcourt (2005), pada entri di halaman 765 tertulis, “Sukarno, Soekarno Ahmed, dikenal sebagai Bung Karno (1902-1907), negarawan asal Indonesia”.
Mengingat banyaknya buku–yang merupakan karya akademik—yang jelas menyebut Sukarno lahir pada tahun 1902, maka sepertinya pendapat atau kesimpulan bahwa Sang Proklamator lahir pada 1901 perlu didiskusikan kembali.*





