Industri penerbangan bersiap menghadirkan inovasi baru yang menuai kontroversi: kursi berdiri di pesawat. Konsep bernama “Skyrider 2.0” ini dirancang oleh produsen asal Italia, Aviointeriors. Dijadwalkan mulai digunakan oleh beberapa maskapai berbiaya rendah pada tahun 2026. Tertarik mencoba?
__________
Dikutip dari Time Out Worldwide, fasilitas ini dibikin untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan kapasitas penumpang hingga 20 persen dalam penerbangan jarak pendek.
Skyrider 2.0 memiliki desain menyerupai pelana sepeda, sehingga memungkinkan penumpang untuk “duduk setengah berdiri” dengan posisi tubuh condong sekitar 45 derajat.
Meski tidak sepenuhnya berdiri, posisi ini mengurangi ruang antarbaris menjadi hanya 23 inci, dibandingkan rata-rata 30-32 inci pada kursi ekonomi konvensional. Desain ini juga mengurangi berat kursi hingga 50 persen, yang berdampak pada efisiensi bahan bakar dan biaya perawatan yang lebih rendah.
Gaetano Perugini, penasihat teknik di Aviointeriors, mengatakan, “Pesannya adalah, kami tidak ingin menempatkan ribuan orang di kabin, kami ingin menawarkan konfigurasi multikelas, yang saat ini mustahil jika Anda ingin mencapai beban penumpang maksimum.”
Kontroversi
Meski beberapa maskapai menunjukkan minat terhadap konsep ini, tetapi belum ada konfirmasi resmi mengenai penerapannya.
Ryanair, yang sebelumnya dikenal dengan ide-ide inovatifnya, pun membantah klaim bahwa mereka akan segera mengadopsi kursi berdiri ini. Aviointeriors juga menyatakan bahwa Skyrider adalah prototipe konseptual dan belum menjadi bagian dari lini produk resmi mereka.
Konsep kursi berdiri ini menuai beragam reaksi publik. Beberapa pihak mengkhawatirkan kenyamanan dan keselamatan penumpang, terutama dalam situasi turbulensi atau keadaan darurat.
Namun, sebagaimana dilansir The Economic Times, Aviointeriors mengklaim bahwa desain mereka telah memenuhi standar keselamatan dan
Untuk Indonesia sendiri, hingga saat ini belum ada laporan maskapai di Indonesia yang mengumumkan bakal mengadopsi kursi berdiri itu. Namun, mengingat potensi penghematan biaya dan peningkatan kapasitas penumpang, tidak menutup kemungkinan bahwa maskapai berbiaya rendah di Indonesia akan mempertimbangkan inovasi ini di masa depan.***





