Akibatnya, informasi, atau literatur yang didapat tak pernah sempurna. Literatur dicari karena manusia memerlukan referensi dalam bersikap atau bertingkah laku—begitulah kesimpulan para psikolog behavioris, termasuk Goodman. Dan ketika orang-orang kebingungan memilih literatur—karena banyaknya informasi yang datang—dampaknya adalah kebingungan sikap dan ambiguitas respons secara terus menerus.
Misalnya, ketika seseorang baru saja selesai menyimak informasi tentang pandemi di sebuah portal berita, sebelum dia memahaminya, beberapa detik kemudian muncul informasi tentang teroris di portal tersebut. Ketika dua informasi tentang dua topik berbeda itu datang bersamaan, dan terus-menerus, pembacanya jadi ambigu. Sebab, dia belum sempat memahami informasi pertama, tetapi sudah dicekoki informasi kedua. Begitu seteurusnya.
Informasi-informasi dari portal berita itu pun juga terdistorsi oleh—misalnya—datangnya surat elektronik berisi tema yang jauh berbeda; atau obrolan melalui aplikasi percakapan maupun linimasa media sosial. Email dan chatting itu datang bersamaan dengan dua informasi tak berkaitan sebelumnya. Makin kroditlah banjir informasi. Makin bingung audiensnya.
Itu dari sisi respons informasi. Soal respons sosial, orang yang gemar ber-multitasking, menurut penelitian Goodman, juga bermasalah. Mereka sering abai dengan lingkungan nyata di sekitarnya. Tentu Anda pernah mengalami kejadian menjengkelkan, di mana obrolan Anda tak direspons lawan bicara karena dia asyik dengan berbagai aplikasi di gawai mereka. Mereka asyik dengan kebingungan masing-masing. Akhirnya mereka menjadi semacam anti-sosial dalam kapasitas tertentu.
Orang-orang seperti itu biasanya menjadi sosok yang tak menyenangkan. Sebab, semua orang tahu tak enaknya diabaikan. Namun demikian, fenomena ini sulit dihindari karena itulah konsekuensi dari perkembangan teknologi informasi yang menggila.
Menurut Goodman, dan sebelumnya pernah dikatakan juga oleh Neill Postman dan Jurgen Habermars–dua kritikus sosial–ada pemahaman yang salah; karena sebenarnya teknologi hadir untuk mempermudah manusia, bukan memperbudaknya.





