JAKARTA – Amerika Serikat mendapat pukulan telak setelah Nicolas Maduro Moros kembali terpilih sebagai Presiden Venezuela untuk ketiga kalinya pada Senin (29/7/2024). Bagi sebagian besar rakyat Venezuela, Maduro adalah pahlawan yang membawa harapan di tengah krisis. Namun, bagi AS, Maduro tak lebih dari seorang bandar narkoba berbahaya yang harus ditangkap.
Kemenangan Maduro dirayakan dengan meriah di Venezuela. Di berbagai tayangan media sosial X, terlihat konvoi besar-besaran di jalan-jalan utama. Namun, kemenangan ini juga berarti kekalahan bagi Amerika Serikat. Sejak 2017, Amerika Serikat telah memasukkan Maduro dalam daftar buronan internasional.
Pada Rabu (31/7/2024), salah satu pengusaha terkaya Amerika Serikat, Elon Musk, membagikan poster Maduro sebagai buronan melalui media sosial X dengan caption, “This is Real.” Musk juga membagikan tautan poster resmi dari Biro Narkotika Internasional dan Penegakan Hukum (INL) yang dapat diakses di sini.
Departemen Luar Negeri AS, melalui INL, menawarkan hadiah hingga USD15 juta (sekitar Rp244 miliar) bagi siapa saja yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan atau penghukuman Nicolas Maduro Moros. Namun, siapa sebenarnya Maduro dan mengapa Amerika Serikat sangat membencinya?
Maduro dalam Pandangan Amerika Serikat
United States Drug Enforcement Administration (DEA) pada 26 Maret 2020 menyatakan bahwa mantan presiden Venezuela Nicolás Maduro Moros, bersama beberapa pejabat tinggi lainnya, didakwa di beberapa pengadilan di Amerika Serikat. Jaksa Agung AS, William P. Barr, menyebut rezim Maduro dipenuhi dengan kriminalitas dan korupsi. Selama lebih dari 20 tahun, Maduro dan koleganya bersekongkol dengan kelompok pemberontak FARC, menyebabkan berton-ton kokain masuk ke AS dan merusak masyarakat.
Jaksa Geoffrey S. Berman dari Distrik Selatan New York menyatakan bahwa dakwaan tersebut menunjukkan kerjasama narkotika-terorisme antara Maduro dan FARC. “Maduro dan para terdakwa lainnya menggunakan kokain sebagai senjata untuk menghancurkan kesehatan dan kesejahteraan bangsa kita,” ujarnya.





