AS Dituduh Serang Wilayah Sipil di Hormuz

Kapal perusak rudal kendali kelas Arleigh Burke USS Rafael Peralta (DDG 115) menerapkan blokade maritim terhadap kapal berbendera Iran yang mencoba berlayar menuju pelabuhan Iran, 26 April 2026. Rafael Peralta dikerahkan ke wilayah operasi Armada ke-5 AS untuk mendukung keamanan dan stabilitas maritim di Timur Tengah. US NAVY
Iran menuding AS menyasar area sipil di Pulau Qeshm, Bandar Khamir, dan Sirik dalam bentrokan militer di Selat Hormuz pada 7 Mei 2026 — saling klaim yang mempertaruhkan nasib gencatan senjata.

Komando Pusat AS menyatakan pasukannya mencegat serangan Iran yang disebut “tanpa provokasi” terhadap tiga kapal perusak angkatan laut Amerika yang melintas di Selat Hormuz menuju Teluk Oman pada 7 Mei.

Fasilitas Iran yang menjadi sasaran serangan balasan AS mencakup pangkalan peluncuran rudal dan pesawat nirawak, pusat komando dan kendali, serta simpul pengintaian dan pengawasan.

Tudingan Wilayah Sipil

Juru bicara angkatan bersenjata Iran menyatakan serangan udara AS menyasar area sipil di Pulau Qeshm — titik strategis di pintu masuk Selat Hormuz — serta kawasan pesisir Bandar Khamir dan Sirik di Iran selatan.

Bacaan Lainnya

Markas Pusat Khatam al-Anbiya juga mengklaim AS menyerang sebuah kapal tanker Iran dan satu kapal lain di dekat selat, yang memicu respons militer Tehran berupa serangan terhadap kapal perang AS di sebelah timur selat dan selatan Pelabuhan Chabahar.

Kedua klaim soal korban dan kerusakan saling bertentangan. Iran mengklaim serangannya menyebabkan “kerusakan signifikan,” sementara AS menegaskan semua ancaman berhasil dicegat dan tidak ada asetnya yang terdampak.

Gencatan Senjata di Ujung Tanduk

Iran menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran nyata atas kesepakatan gencatan senjata 8 April 2026, sekaligus pelanggaran terhadap Piagam PBB.

Trump justru meremehkan insiden tersebut, menyebutnya hanya “tepukan lembut,” dan menegaskan gencatan senjata masih berjalan.

Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menyebut Iran telah menyerang pasukan AS lebih dari 10 kali sejak gencatan senjata dimulai, namun tidak satu pun yang melampaui ambang batas untuk diklasifikasikan sebagai dimulainya kembali operasi tempur penuh.

Selat Hormuz tetap menjadi titik paling rentan dalam krisis energi global. Sejak 28 Februari 2026, lalu lintas kapal melalui selat ini — yang sebelumnya mengangkut sekitar 25 persen perdagangan minyak dunia melalui laut — sebagian besar terhenti akibat konflik.

Pos terkait