Apakah Qasidah Akan Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia?

Penampilan Komunitas Qasidah El Rista saat mengisi acara pengajian. - RRI/Youtube WJ Project
LASQI NJ mengusulkan seni qasidah jadi Warisan Budaya Takbenda dan Menbud Fadli Zon langsung menanggapinya.

Lembaga Seni Qasidah Indonesia Nusantara Jaya (LASQI NJ) mengajukan usulan agar seni qasidah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. 

Usulan itu disampaikan dalam kunjungan DPP LASQI NJ ke Kementerian Kebudayaan di Jakarta, Selasa (18/11/2025), dan langsung mendapat sambutan dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Fadli menyebut terkejut mengetahui bahwa qasidah belum masuk daftar WBTb nasional. Ia menilai seni tersebut memiliki kekayaan lokal yang besar dan sejarah panjang di Indonesia. “Saya baru ngeh kalau ternyata qasidah belum masuk dalam daftar ini padahal sangat pantas,” kata Fadli, Selasa (18/11/2025).

Bacaan Lainnya
Fadli Zon: Qasidah Punya Ragam Lokal yang Kuat

Fadli menekankan perlunya kajian komprehensif sebelum penetapan dilakukan. Ia menepis anggapan bahwa qasidah hanya merupakan musik Timur Tengah, karena ragam lokalnya di Indonesia sangat berlapis. “Genre dan ragam seni qasidah sangat banyak,” ujarnya.

Ia juga mengungkap koleksi pribadinya yang memuat ribuan kaset musik Indonesia, termasuk qasidah era 1960–1970-an. “Itu musik Indonesia saja. Termasuk piringan hitam yang qasidah banyak. Terbitan tahun 60-an, 70-an. Itu perlu penelitian, menarik kalau diangkat,” tuturnya.

DPP LASQI-NJ yang dipimpin Jazilul Fawaid bertemu dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa (18/11/2025).- Dok. PKB

Saat ini, kata Fadli, Indonesia mencatat 2.231 karya WBTb dan 16 WBTb yang telah diakui UNESCO. Hingga akhir 2025, pemerintah menargetkan penambahan 550 WBTb baru.

Ekosistem Qasidah Dinilai Perlu Dukungan Negara

Fadli menilai pengembangan qasidah membutuhkan ekosistem yang mendukung melalui workshop dan kegiatan kebudayaan. Ia juga menyebut seni bertema keislaman tengah berkembang pesat di Timur Tengah dan Singapura. “Kita terus terang agak ketinggalan dalam Islamic art,” ujarnya.

Menurut dia, sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia semestinya mampu mendorong kemajuan musik qasidah, terutama ragam lokalnya.

Jazilul: Qasidah Masih Hidup, tapi Kurang Dikenal Generasi Muda

Wakil Ketua Umum LASQI NJ Jazilul menguatkan pandangan tersebut. Ia mengatakan qasidah tetap digemari masyarakat akar rumput, meski kurang dikenal generasi muda. “Di acara-acara nikahan, khitanan, lagu qasidah di daerah-daerah masih sangat sering didendangkan,” katanya.

Ia menyayangkan minimnya perhatian negara terhadap genre yang pernah sangat populer di era 1970–1980-an. “Seni qasidah masih kurang terperhatikan,” ujarnya.

Jazilul mengusulkan agar qasidah masuk naungan Kementerian Kebudayaan supaya pengembangannya lebih terstruktur. “Setiap tahun, LASQI Nusantara Jaya menggelar festival. Akan lebih baik kalau qasidah masuk naungan Kementerian Kebudayaan,” katanya.

Ajakan Hadir di LASQI Nusantara Fest 2025

Dalam pertemuan tersebut, LASQI NJ juga mengundang Fadli Zon hadir pada LASQI Nusantara Fest 2025 di Bogor pada 4–7 Desember 2025. Acara ini mencakup Silatnas LASQI NJ, Pemilihan Duta Qasidah, pemecahan rekor MURI, dan rangkaian kegiatan kebudayaan.

Kunjungan itu turut dihadiri Ketua DPW LASQI NJ Jawa Barat KH Maman Imanulhaq, Sekjen Inu Aminuddin, Ketua DPD LASQI NJ Kabupaten Bogor Lukmanudin Ar Rasyid, dan sejumlah pengurus lainnya.***

Pos terkait