Ada Rumus Geometri Canggih dalam Bangunan Borobudur

Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. - Dok. Canva
Penelitian terbaru menunjukkan Borobudur dibangun dengan geometri presisi tinggi yang mendahului sains modern.

Candi Borobudur di Magelang bukan hanya monumen Buddha, tetapi struktur yang memuat konsep matematika tingkat tinggi sejak abad ke-8. Dengan tinggi 42 meter dan sisi 123 meter, ukurannya mendekati Golden Ratio, konsep estetika yang dipopulerkan Euklides pada 300 SM.

Riset Rahmi Nur Fitria Utami dkk., dalam Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pengajaran Matematika (Maret 2020), menyebut Borobudur dibangun dengan dasar lingkaran dan persegi. Sepuluh tingkatnya memadukan bangun datar dan ruang—dari persegi, segitiga, lingkaran, hingga balok, kubus, dan struktur kerucut pada stupa.

Fraktal dan Mandala dalam Struktur Berundak

Bandung Fe Institute menemukan pola fraktal pada Borobudur: stupa besar yang dikelilingi stupa-stupa lebih kecil dalam pola berulang. Peneliti Alex Wayman (1982) menunjukkan bahwa bila dilihat dari atas, Borobudur membentuk Mandala Dharmadhatu dan Wajradhatu—pola matematika kompleks yang menggambarkan kosmos.

Bacaan Lainnya

Tiga tingkatnya, Kamadhatu–Rupadhatu–Arupadhatu, bukan hanya simbol spiritual tetapi kerangka geometri terukur.

Rasio 9:6:4 dan Dimensi Pecahan

Arsitek UGM Parmono Atmadi menemukan rasio 9:6:4 pada tinggi dan proporsi tiga dunia Borobudur. Peneliti Hokky Situngkir menegaskan pola ini muncul di seluruh bangunan, termasuk dalam bentuk ellipsoid stupa.

Hokky juga menyatakan Borobudur memiliki dimensi fraktal antara 2 dan 3—didasarkan pada pemodelan cellular automata yang menemukan pola penumpukan batu berulang, dari 6 hingga 10 unit.

Struktur ini menunjukkan kecanggihan matematika leluhur Nusantara jauh sebelum istilah “fraktal” dikenal.

Dengan seluruh temuan ini, apakah Borobudur hanyalah candi, atau sebenarnya sebuah blueprint matematika purba yang baru kita pahami sekarang?

Selengkapnya baca di sini.

Pos terkait