Monas adalah salah satu proyek mercusuar paling prestise yang dibangun tepat di jantung Ibukota. Emas murni – lambang kemuliaan dan prestise – melapisi puncaknya. Emas di puncak Monas berbobot lebih dari 30 kilogram. Sekitar 28 kilogram di antaranya disebut hasil sumbangan seorang pengusaha dari Aceh bernama Teuku Markam.
Proyek mercusuar ini menjadi bulan-bulanan kritik banyak pihak. Para pengkritik menyebut bahwa “simbol kebesaran bangsa” yang diwujudkan lewat kemegahan Monas—juga aneka proyek mercusuar lainnya—tak punya tuah apa pun untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia yang compang-camping ekonomi di pengujung dekade 1950-an. Utang pemerintah menggemuk, ekspor lesu, hingga ujungnya dapat ditebak: inflasi meroket.
Di penghujung era Demokrasi Terpimpin di bawah Soekarno, terjadi hiperinflasi ratusan persen, yang berujung pada pemangkasan tiga angka nol rupiah atau sanering pada 1965. Emas di puncak Monas pun tak luput dari sorotan. Harian Kompas, pada 21 November 1966, melaporkan bahwa Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI) Kotamadya Surabaya merilis pernyataan “usul” pada pemerintah untuk menurunkan emas yang melapisi lidah api Monas. “Diturunkan dan diuangkan untuk dapat dipergunakan bagi hal-hal yang ‘bersifat produktif’,” tulis Kompas dalam artikel bertajuk Produktifkan Emas Tugu Nasional itu.
Usul KAGI Surabaya berangkat dari pertimbangan bahwa Indonesia tengah tercekik hutang luar negeri yang parah dan ekonomi nasional perlu dibenahi. “Politik mercusuar zaman Orde Lama mengakibatkan pemborosan,” sebut KAGI Surabaya kala itu.
Namun demikian, Sukarno kukuh menjalankan proyek Monas. Kata dia, ”Tidak, saudara-saudaraku. Kita tidak membangun sebuah Monumen Nasional yang berharga setengah juta dolar hanya untuk membuang uang. Tidak! Kita sedang membuat ini, karena kita menyadari bahwa sebuah bangsa yang hebat, jiwanya dan hasratnya adalah kebutuhan yang absolut untuk kehebatannya, harus disimbolkan dengan sebuah benda materiil, sebuah benda yang hebat, yang kadang akan membuka mata dari bangsa-bangsa lain dengan penuh kekaguman.”
Dan bila penyair Chairil Anwar menyatakan, ”Aku ingin hidup 1.000 tahun lagi,” maka Bung Karno berkata, ”Monumen ini (Monas) akan tahan selama 1.000 tahun.”(…bersambung…)
(Wijdan)





