Kiprah Gus Gudfan: Sempat Diberhentikan Gus Yahya, Kini Gebrak PBNU Jadi Sekjen Pengganti Gus Ipul

Sekjen PBNU Masa Khidmah 2026 - 2031, Gus Gudfan Arif Ghofur. (Dok. PBNU) 

Gus Gudfan resmi menjabat Sekjen PBNU 2026-2031 menggantikan Gus Ipul. Sosok pengusaha ini sempat diberhentikan Gus Yahya, namun kini kembali menempati posisi strategis menyisihkan sejumlah nama besar. Apa tugas beratnya kelak di organisasi?

Angin segar pembaruan berembus dari Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta Pusat. Rabu (30/9/2026), Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin resmi mengumumkan susunan kepengurusan masa khidmah 2026-2031. Satu nama yang langsung membetot perhatian publik adalah Gudfan Arif Ghofur.

Pria yang akrab disapa Gus Gudfan ini secara mengejutkan menduduki kursi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU. Ia menggantikan posisi Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang menjabat pada periode sebelumnya. Terpilihnya Gus Gudfan menandai babak baru kepemimpinan NU yang kini mencoba memadukan tradisi kuat pesantren dengan keluwesan manajerial seorang teknokrat dan pengusaha.

Profil dan Akar Kuat di Nahdlatul Ulama

Lahir dan besar di lingkungan pesantren, Gus Gudfan mewarisi darah ulama dari sang ayah, Prof. KH Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan. Masa kecil hingga remajanya ia habiskan untuk menimba ilmu agama di Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah di Lamongan, sebelum akhirnya bertolak ke Jombang untuk mengenyam pendidikan Aliyah dan berkuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Darul Ulum.

Bacaan Lainnya

Napas organisasinya sudah berdenyut sejak ia duduk di bangku tsanawiyah dengan menjadi kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Beranjak dewasa, kariernya di struktural NU meroket perlahan namun pasti. Gus Gudfan mencatatkan rekam jejak panjang sebagai Bendahara PP Pagar Nusa (2012-2017), Bendahara RMI PWNU Jawa Timur (2013-2018), hingga Penasihat PW GP Ansor Jawa Timur (2019-2023).

Selain ulung berorganisasi, Gus Gudfan merintis kerajaan bisnisnya sejak 2003. Ia mengendalikan berbagai perusahaan di sektor minyak dan gas, petrokimia, informasi dan telekomunikasi, hingga pertambangan batu bara yang tersebar dari Surabaya, Bali, Semarang, hingga Cilegon. Latar belakang inilah yang membuatnya sempat dipercaya mengelola sayap bisnis tambang PBNU pada pertengahan 2024 lalu.

Menggeser Nama Besar dan Gantikan Gus Ipul

Kursi Sekjen PBNU bukanlah sembarang jabatan. Posisi ini adalah “dapur” sekaligus mesin penggerak roda organisasi Islam terbesar di dunia tersebut. Menggantikan Gus Ipul yang memiliki nama besar, Gus Gudfan melangkah ke pucuk pimpinan dengan menyisihkan sejumlah tokoh mentereng.

Sebelum palu keputusan Gus Kikin diketuk, bursa Sekjen PBNU sempat menghangat. Sejumlah nama beken santer beredar di ruang publik, mulai dari politikus senior Lukman Edy, tokoh MUI Asrorun Niam Sholeh, hingga birokrat andal Kamaruddin Amin. Namun, dinamika internal PBNU berkehendak lain. Figur-figur besar tersebut tersingkir oleh sosok Gus Gudfan yang dinilai lebih luwes memadukan kepiawaian mengurus administrasi dan mengelola finansial organisasi.

Sempat Diberhentikan Gus Yahya

Perjalanan Gus Gudfan menuju kursi Sekjen nyatanya tidak selalu dihiasi karpet merah. Publik tentu masih ingat insiden pada akhir November 2025 silam. Saat itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengambil langkah tegas dengan memberhentikan Gus Ipul dari jabatan Sekjen dan Gus Gudfan dari posisi Bendahara Umum PBNU.

Keputusan keras tersebut diambil bukan tanpa alasan. Gus Yahya menilai roda organisasi tersendat parah. Kesibukan Gus Ipul sebagai menteri membuat tumpukan Surat Keputusan (SK) terbengkalai dan administrasi kesekretariatan PBNU lumpuh. Pencopotan tersebut sempat memicu gejolak, namun Gus Gudfan meresponsnya dengan tenang. Kini, roda nasib berputar. Di bawah komando Gus Kikin, Gus Gudfan justru “naik kelas” mengambil alih tongkat komando kesekretariatan yang dulu sempat membuatnya terdepak.

Tugas Berat Sekjen PBNU Mendatang

Memasuki abad kedua kiprah Nahdlatul Ulama, jabatan Sekjen menuntut dedikasi penuh. Sebagai pusat pengendali urusan harian, seorang Sekjen bertugas memastikan seluruh kebijakan syuriyah dan tanfidziyah tereksekusi dengan sempurna di lapangan, mengatur lalu lintas administrasi, hingga menjadi jembatan diplomasi PBNU dengan berbagai instansi.

Kini, tugas mahaberat menanti di pundak Gus Gudfan. Ia harus membuktikan kemampuannya merapikan manajemen kesekretariatan yang sempat dikritik berantakan pada era sebelumnya. Lebih dari itu, Gus Gudfan dituntut memutar roda kemandirian ekonomi umat, menjaga soliditas pengurus di berbagai tingkatan pasca-muktamar, dan memastikan Nahdlatul Ulama tetap menjadi kompas moral bangsa yang modern namun tak tercerabut dari akar tradisi pesantrennya.

Selamat bekerja, Gus Sekjen!***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan