Jenazah anak buah kapal Surakman dikenali lewat DNA setelah ditemukan di Pulau Enggano. Operasi SAR gabungan ditutup 17 September. Kepala Basarnas mengatakan pencarian berlanjut sebagai operasi rutin hingga Bengkulu.
Tujuh dari delapan orang yang hilang kontak di Selat Sunda bersama kapal cepat Arupadhatu 1 belum ditemukan. Satu jenazah telah dikenali sebagai anak buah kapal Surakman, 60 tahun, warga Carita, Pandeglang.
Kapal bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB, untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kontak terakhir tercatat sekitar pukul 14.42 WIB.
Operasi pencarian dan pertolongan gabungan berlangsung tujuh hari, lalu diperpanjang tiga hari. Posko ditutup Kamis, 17 September 2026, setelah evaluasi tidak menemukan tanda kapal maupun tujuh orang lainnya.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan aturan operasi tujuh hari telah diperpanjang tiga hari. “Setelah tiga hari, itu tidak ada tanda-tanda korban,” kata Amrad di Serang, Rabu, 23 September 2026. Ia menyatakan operasi SAR besar tidak dibuka kembali hanya karena identifikasi jenazah Surakman.
Operasi Rutin ke Bengkulu
Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii mengatakan pencarian tetap dilakukan dalam status operasi rutin dan pemantauan diperluas, termasuk ke wilayah Bengkulu dan Pulau Enggano.
“Sampai sekarang tetap dilakukan pencarian lanjutan. Karena memang operasi kan dialihkan kepada operasi rutin,” kata Syafii di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 24 September 2026.
Kapolda Banten Inspektur Jenderal Hengki menyatakan bangkai Arupadhatu 1 belum ditemukan. “Tidak ada yang ditemukan, sekarang masih hilang,” ujarnya, 23 September 2026.
Jenazah pria ditemukan warga di pesisir Desa Kahyapu, Pulau Enggano, pada 12 September 2026, sekitar 345 kilometer dari titik terakhir kapal terdeteksi. Hasil pemeriksaan DNA DVI Polri pada 23 September menyatakan jenazah identik dengan Surakman. Jenazah dimakamkan di TPU Ki Demang, Carita, pada 24 September.
Tujuh orang yang masih dicari adalah kapten kapal Warta, pemandu Heriyanto, serta jurnalis M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis lepas). Organisasi pewarta meminta pencarian dibuka kembali. Dewan Pers menetapkan lima jurnalis itu sebagai Pahlawan Pers 2026.***





