Surakman teridentifikasi sebelas hari setelah jasadnya ditemukan terapung di Enggano. Tujuh rekannya masih hilang, sementara operasi SAR gabungan belum juga dibuka lagi.
Kapolda Banten Inspektur Jenderal Hengki memastikan jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, adalah Surakman alias Sukarman, 60 tahun. Ia merupakan anak buah kapal KM Arupadhatu I yang hilang kontak di Selat Sunda.
Hasil pencocokan DNA itu diumumkan pada Rabu, 23 September 2026. Tujuh orang lain dari rombongan kapal tersebut hingga kini belum ditemukan.
“Secara genetik jenazah Mr X tadi teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK kapal Arupadatu I,” kata Hengki dalam konferensi pers di Polda Banten.
Tim Identifikasi Korban Bencana (DVI) Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri mencocokkan DNA jenazah dengan sampel milik Yayat, anak kandung Surakman. Hasilnya identik.
Jenazah itu ditemukan pada Sabtu, 12 September, di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Pulau Enggano, yaitu pada hari kelima operasi pencarian. Polisi kemudian membawanya ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu.
Menurut Hengki, jenazah Surakman dijadwalkan diterbangkan dari Bengkulu ke Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis, 24 September. Setibanya di Banten, jenazah akan diserahkan kepada keluarganya di Pandeglang.
Tujuh Orang Masih Hilang
Sebelumnya, KM Arupadhatu I hilang kontak pada 7 September saat membawa rombongan jurnalis yang hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Hingga kini, posisi kapal itu belum diketahui.
Lima jurnalis yang belum ditemukan adalah M. Bagus Khoerunnas (Antara), Arie Basuki (Merdeka), Yudhistiro Pranoto (iNews), Firdaus Wajidi (Anadolu), dan jurnalis lepas Donal Husni. Nakhoda Warta dan pemandu Heriyanto juga masih hilang.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan berlangsung sepuluh hari, yakni tujuh hari ditambah perpanjangan tiga hari. Operasi itu berakhir pada 17 September.
“Setelah tiga hari itu tidak ada tanda-tanda korban,” kata Al Amrad.
Meskipun operasi resmi sudah dihentikan, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) masih memantau lewat siaran informasi kepada kapal yang melintas, nelayan, dan warga pesisir. Tim SAR Bengkulu juga menyisir perairan sekitar Enggano, tetapi belum menemukan tanda lain.
Desakan untuk Membuka Kembali Pencarian
Selain itu, Ketua Umum Pewarta Foto Indonesia (PFI) Dwi Pambudo meminta Basarnas membuka kembali operasi gabungan. Menurut dia, identifikasi jenazah Surakman merupakan bukti baru yang harus segera ditindaklanjuti.
“Atas dasar penemuan bukti baru ini, PFI secara resmi meminta dan mendesak Basarnas beserta tim SAR gabungan TNI/Polri untuk segera membuka kembali Operasi SAR Gabungan,” kata Dwi.
PFI meminta pencarian difokuskan di sekitar Enggano dan di sepanjang jalur perairan dari Selat Sunda menuju pulau itu. Dwi menegaskan bahwa keluarga korban belum kehilangan harapan.
“Harapan kami dan pihak keluarga sama sekali belum padam. Kami meminta negara hadir secara maksimal untuk melacak keberadaan lima rekan jurnalis kami,” ujar Dwi.***




