BNPB: 1.430 Hektare Lahan Masih Belum Padam

BNPB memperkirakan 1.430 hektare lahan belum padam; risiko banjir dan longsor di wilayah bekas kebakaran turut diantisipasi. (Ilustrasi: AI)

Estimasi lahan belum padam turun dari 5.191 menjadi 1.430 hektare. BNPB juga mengantisipasi banjir dan longsor di wilayah bekas kebakaran.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat sekitar 1.430 hektare lahan masih belum padam berdasarkan pemantauan hingga Sabtu, 7 November 2026, pukul 17.00 WIB.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan pembaruan tersebut pada Minggu, 8 November.

“Estimasi luas lahan terbakar mencapai sekitar 1.430 hektare masih belum padam dan memerlukan penanganan,” kata Berton, menurut laporan media.

Bacaan Lainnya

Angka itu menurun dibandingkan pemantauan 5 November yang mencatat 5.191 hektare belum padam. Jumlah titik panas dan titik indikasi kebakaran juga berkurang.

Perbandingan data BNPB pada 5 dan 7 November sebagai berikut:

  • Titik panas: turun dari 4.737 menjadi 2.733 titik.
  • Titik indikasi kebakaran: turun dari 1.962 menjadi 928 titik.
  • Estimasi lahan belum padam: turun dari 5.191 menjadi 1.430 hektare.

Papua Selatan dan Kalimantan Tengah Jadi Perhatian

Papua Selatan mencatat 396 titik panas, tertinggi menurut laporan tersebut, dengan sekitar 362 hektare belum padam.

Kalimantan Tengah mencatat 364 titik panas dan 241 titik indikasi kebakaran. Estimasi lahan belum padam mencapai 382 hektare, lebih luas daripada Papua Selatan.

BNPB juga memberikan perhatian kepada Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah.

Bersiap Menghadapi Musim Hujan

Berton mengatakan petugas mulai mengantisipasi banjir dan longsor menjelang musim hujan, terutama pada wilayah bekas kebakaran yang memiliki kerentanan hidrologis.

Angka 1.430 hektare merupakan estimasi lahan belum padam pada waktu pemantauan. Angka tersebut bukan luas kumulatif karhutla sepanjang 2026. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan