Rumah Sakit Hewan dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga meresmikan apotek untuk mengendalikan peredaran obat hewan. Direktur RSH menilai pemberian antibiotik secara bebas mendorong resistensi.
Rumah Sakit Hewan dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga meresmikan Apotek Veteriner di kompleks rumah sakit itu. Direktur Rumah Sakit Hewan Unair Anwar Ma’ruf mengatakan apotek didirikan untuk mengendalikan obat hewan yang beredar luas di masyarakat.
Ia menilai peredaran obat secara bebas dapat menimbulkan resistensi sehingga penyakit pada hewan sulit diobati. “Saat ini kalau kita lihat resistensi penggunaan obat pada hewan begitu meningkat. Bila sudah terjadi resistensi, menyebabkan pengobatan menjadi sulit. Kenapa terjadi resistensi? Ya karena penggunaan antibiotik bisa diberikan secara bebas,” kata Anwar, dikutip Selasa, 15 September 2026.
Dengan adanya apotek veteriner, ia berharap penggunaan obat hewan disertai edukasi. “Dengan adanya apotek veteriner, kita berharap penggunaan obat-obat hewan nantinya bisa mengedukasi bagaimana menggunakan obat hewan,” ujarnya.
Jaga Kesehatan Hewan dan Manusia
Anwar berharap apotek tidak hanya mengontrol peredaran obat, tetapi juga membantu mencegah penyakit menular dari hewan ke manusia. “Kalau kita menjaga kesehatan hewan, berarti kita menjaga penularan penyakit akibat hewan ke manusia,” katanya.
Keberadaan apotek juga mendukung pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan. Mahasiswa diharapkan dapat belajar menulis resep, meracik obat, dan membedakan obat yang boleh serta tidak boleh dijual bebas.
“Para mahasiswa kedokteran hewan harus bisa mempelajari bagaimana menulis resep, bagaimana meracik obat, bagaimana tahunya obat-obat hewan. Apa saja yang harus atau tidak boleh dijual bebas, mereka mahasiswa nanti bisa praktik atau magang di apotek veteriner,” sambungnya.***





