Peringatan Maulid Nabi di berbagai daerah turut diramaikan sajian khas yang sarat makna, mulai dari tumpeng rasulan hingga tradisi endog-endogan.
Umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. setiap 12 Rabiul Awal dengan beragam tradisi. Selain membaca kitab Barzanji dan menggelar pengajian, masyarakat di sejumlah daerah menyajikan hidangan khas untuk disantap atau dibagikan bersama.
Setiap makanan memiliki bentuk, cara penyajian, dan makna simbolis yang berbeda. Berikut lima hidangan yang lekat dengan tradisi Maulid Nabi, seperti dilansir dari laman Nahdlatul Ulama pada Selasa, 25 Agustus 2026.
1. Tumpeng Rasulan
Tumpeng rasulan merupakan salah satu jenis tumpeng yang dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa. Sajian ini menggunakan nasi berbumbu gurih dengan pelengkap berupa ayam ingkung berbumbu gula aren, lalapan, kedelai hitam goreng, dan rambak.
Dalam kebudayaan Jawa, tumpeng tidak disajikan untuk keperluan sehari-hari, melainkan pada peristiwa tertentu. Istilah tumpeng kerap dimaknai sebagai singkatan dari “tumapaking penguripan, tumindak lempeng tumuju Pangeran”.
Bentuk nasi yang mengerucut menyerupai gunung menyimbolkan harapan agar kehidupan terus meningkat dan mendekat kepada Tuhan. Sementara lauk-pauk di sekelilingnya menggambarkan tanah yang subur dan kesejahteraan.
2. Ketupat Sumpil
Ketupat sumpil menjadi hidangan khas perayaan Maulid Nabi di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Makanan ini dibuat dari beras yang dibungkus daun bambu hingga berbentuk limas segitiga.
Ketupat sumpil biasanya disantap bersama sambal kelapa. Bentuk segitiganya dimaknai sebagai simbol hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarsesama.
3. Nasi Kebuli Betawi
Nasi kebuli memang dikenal memiliki pengaruh kuliner Timur Tengah. Namun, varian nasi kebuli Betawi telah berkembang menjadi bagian dari tradisi peringatan Maulid Nabi di Indonesia.
Nasi bercita rasa gurih dan kaya rempah ini biasanya dimasak dalam jumlah besar. Setelah acara Maulid, nasi kebuli kemudian disantap atau dibagikan kepada masyarakat.
4. Nasi Suci Ulam Sari
Masyarakat Pacitan, Jawa Timur, memiliki hidangan Maulid bernama Nasi Suci Ulam Sari. Sajian ini berbentuk menyerupai tumpeng dan dilengkapi aneka sayuran serta lauk.
Nasi yang digunakan berupa nasi uduk. Seekor ayam ingkung yang telah diolah ditempatkan di bagian atasnya.
Hidangan tersebut mengandung makna permohonan kepada Tuhan agar masyarakat dijauhkan dari masalah dan memperoleh keberkahan.
5. Endog-endogan
Endog-endogan merupakan tradisi khas peringatan Maulid Nabi di Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam tradisi ini, telur rebus ditusuk menggunakan bambu kecil dan dihiasi bunga kertas yang disebut kembang endog.
Telur-telur tersebut diarak mengelilingi desa atau kota dengan iringan musik tradisional. Setelah pengajian selesai, telur dibagikan kepada masyarakat.
Setiap bagian telur memiliki makna simbolis. Kulit telur menggambarkan keislaman, putih telur melambangkan keimanan, sedangkan kuning telur dimaknai sebagai keikhlasan.***





