Tahun 1971, penyimpangan proyeksi ekonomi baru terbongkar puluhan tahun kemudian lewat buku pengakuan. Whoosh terbongkar saat proyeknya masih berjalan. Itu bedanya — dan kenapa mahal bukan berarti gagal total.
Di buku Confessions of an Economic Hit Man, John Perkins menceritakan proyek kelistrikan Pulau Jawa awal 1970-an yang dibangun di atas proyeksi ekonomi yang sengaja digelembungkan.
Ketika selisih antara janji dan kenyataan muncul, tidak ada forum resmi untuk mempertanyakannya. Proyek berjalan terus, dan negara menanggung akibatnya diam-diam, tanpa evaluasi kebijakan yang terbuka.
Setengah abad kemudian, Indonesia punya proyek dengan pola kurang lebih serupa — proyeksi awal yang terlalu optimistis, biaya yang membengkak jauh dari rencana. Bedanya, kali ini prosesnya tidak diam-diam.
Janji Awal: Tanpa APBN, Sepenuhnya Business-to-Business
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) awalnya dijanjikan sepenuhnya skema business-to-business, dibiayai pinjaman China Development Bank sekitar USD4,5 miliar tanpa jaminan pemerintah.
Klaim ini jadi salah satu argumen utama saat proyek disetujui: risiko finansial ditanggung penuh oleh konsorsium BUMN dan mitra China, bukan APBN.
Realitanya: Biaya Membengkak, Jaminan Negara Akhirnya Turun Tangan
Antara 2015 dan 2023, biaya proyek membengkak dari perkiraan awal ke sekitar USD7,27 miliar. Pemerintah akhirnya menerbitkan aturan yang mengizinkan APBN dipakai sebagai jaminan pinjaman proyek.
Konsekuensinya bukan cuma soal angka pokok utang, tapi juga potensi tambahan beban bunga puluhan hingga ratusan miliar rupiah per tahun, yang harus dianggarkan bertahun-tahun ke depan.
Ini persis logika yang digambarkan Perkins: proyeksi optimistis membuka pintu pinjaman besar, lalu selisih antara proyeksi dan kenyataan berakhir ditanggung negara, bukan pihak yang membuat proyeksinya.
Yang Berbeda: Penyimpangan Ini Tidak Terkubur
Bedanya dengan era Perkins ada di sini. Ketika skema jaminan APBN diumumkan, kritik datang terbuka — dari partai politik di DPR, dari ekonom independen, diberitakan luas oleh media nasional.
Perdebatan publik semacam ini yang tidak pernah terjadi pada proyek kelistrikan Jawa di buku Perkins. Di sana, penyimpangan proyeksi baru terbongkar puluhan tahun kemudian, lewat pengakuan pribadi mantan pelakunya sendiri.
Pada Whoosh, penyimpangannya terbongkar saat proyek masih berjalan — cukup awal untuk masuk ke perdebatan kebijakan publik, bukan menunggu buku pengakuan terbit puluhan tahun kemudian.
Kenapa Ini Layak Disebut Pelajaran, Bukan Sekadar Kegagalan
Kritik terbuka terhadap Whoosh sudah mendorong wacana evaluasi skema pembiayaan business-to-business untuk proyek infrastruktur strategis berikutnya — termasuk kehati-hatian dalam menilai proyeksi awal sebelum menyetujui pinjaman serupa.
Ini bedanya sebuah kesalahan yang jadi pelajaran kebijakan, dibanding kesalahan yang dibiarkan terulang karena tidak pernah dibahas secara terbuka.
Whoosh mahal — itu fakta yang tidak perlu ditutupi.
Tapi mahalnya harga itu, kalau benar-benar dijadikan bahan evaluasi untuk proyek infrastruktur berikutnya, adalah biaya belajar yang di era Perkins bahkan tidak sempat dibayar oleh siapa pun, karena tidak ada yang tahu ada yang perlu dipelajari.***
Referensi analisa:
John Perkins, Confessions of an Economic Hit Man (Pengakuan Seorang Ekonom Perusak, terj. Herman Tirtaatmadja & Dwi Karyani, Jakarta: Abdi Tandur, 2005)





