KH Miftachul Akhyar dan Diplomasi Akhlak: Sejarah Panjang dari Kedung Tarukan hingga Puncak PBNU

KH. Miftachul Akhyar kembali terpilih sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmah 2026-2031. (Tangkap layar YouTube NU Online)

Di balik posisinya sebagai pucuk pimpinan Nahdlatul Ulama, KH Miftachul Akhyar merintis dakwah dari kawasan yang menolak ulama. Lewat kesederhanaan dan warisan akhlak sang ayah, ia mengubah penolakan masyarakat Surabaya menjadi kedamaian yang sejuk.

Di sudut Kedung Tarukan, Surabaya, beberapa dekade silam, seorang kiai muda dengan telaten menyuguhkan secangkir wedang hangat kepada tamu-tamunya di sebuah kawasan yang konon dikenal “gelap” dan tak ramah pada ulama.

Tak ada mimbar megah atau pengawalan ketat; hanya kesederhanaan dan keikhlasan yang pada akhirnya meruntuhkan kerasnya hati warga setempat.

Kiai muda itu adalah KH Miftachul Akhyar, sosok santri pendiam yang perlahan mengubah wajah kampungnya, jauh sebelum ia berulang kali dipercaya menakhodai gerbong besar Nahdlatul Ulama sebagai Rais ‘Aam.

Bacaan Lainnya

​Warisan Akhlak dari Rangkah

​Lahir di Surabaya pada tahun 1953, Miftachul Akhyar tumbuh dalam tradisi pesantren yang kental. Ia merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara, putra dari KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq di Rangkah.

Sang ayah bukanlah kiai sembarangan; ia adalah sahabat karib KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo dan pernah nyantri langsung kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem, salah satu motor penggerak MIAI dan Taswirul Afkar pada era pergerakan nasional.

​Namun, bukan sekadar sanad keilmuan elite yang diwariskan KH Abdul Ghoni kepada putranya, melainkan laku keseharian yang merakyat. Ahmad Karomi, seorang pencatat sejarah dari PW LTNNU Jawa Timur, mengisahkan bagaimana KH Abdul Ghoni dikenal sebagai “kiai ampuh” yang menutupi kebesarannya dengan keindahan akhlak.

Sang kiai kerap mengadukkan dan menyuguhkan sendiri wedang (minuman hangat) bagi para tamunya. “Lelaku sae” atau kebiasaan baik inilah yang kelak mendarah daging dalam diri Kiai Miftach, menjadi modal utama diplomasinya di tengah masyarakat bawah.

​Menaklukkan Kedung Tarukan yang “Gelap”

​Ketika Kiai Miftach memutuskan untuk mendiami rumah kakeknya di Kedung Tarukan No. 100, Surabaya, ia tidak disambut dengan karpet merah. Secara historis, kampung tersebut terkenal tidak ramah terhadap dakwah para pendakwah Islam. Masyarakatnya masih asing dengan nilai-nilai religius dan kehidupan pesantren.

​Alih-alih mundur atau menggunakan cara-cara keras, Kiai Miftach membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Ia memulainya dari nol dengan menggelar pengajian kecil-kecilan. Setiap tamu yang datang disajikan camilan dan wedang hangat yang ia tuangkan sendiri, persis seperti kebiasaan mendiang ayahnya.

Tanpa disadari, pendekatan kultural tanpa penghakiman ini mengubah pandangan warga. Dalam waktu yang relatif singkat, Kedung Tarukan bertransformasi dari daerah “gelap” menjadi lingkungan yang terang dan sejuk. Di atas tanah berdebu itulah, Pondok Pesantren Miftachus Sunnah akhirnya berdiri tegak.

​Pengembaraan Ilmu dan Sanad Nusantara

​Kematangan Kiai Miftach dalam menghadapi kerasnya jalanan Surabaya tidak lepas dari panjangnya riwayat intelektual yang ia tempuh. Di masa mudanya, ia melanglang buana mematangkan pemahaman agama ke berbagai pesantren tua di tanah Jawa. Mulai dari Tambakberas dan Sidogiri di Jawa Timur, hingga Lasem di Jawa Tengah.

​Penguasaan ilmunya yang mumpuni bahkan sempat membuat Syekh Masduki Lasem kagum, hingga ulama besar tersebut mengambil Kiai Miftach sebagai menantu.

Tak berhenti di pesantren lokal, genealogi keilmuannya semakin sempurna ketika ia berguru pada Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al-Maliki di Malang, saat ulama karismatik asal Makkah itu masih rutin mengajar di Indonesia.

Perpaduan antara ketawadhuan pesantren khas Nusantara dan keluasan ilmu Haramain inilah yang membentuk karakter kepemimpinannya.

​Dari Akar Rumput Menuju Puncak Jam’iyah

​Kiprah struktural Kiai Miftach di Nahdlatul Ulama tidak terjadi dalam semalam. Ia merangkak dari bawah, memahami betul denyut nadi warga Nahdliyin akar rumput. Ia memulainya sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya (2000-2005), lalu naik memimpin Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode (2007-2018).

Kematangannya membawanya ke tingkat pusat sebagai Wakil Rais Aam PBNU (2015-2020), Penjabat Rais Aam, hingga akhirnya dikukuhkan secara penuh melalui sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar Ke-34 dan berlanjut di Muktamar berikutnya.

​Uniknya, setinggi apa pun jabatannya di PBNU, ia tidak pernah meninggalkan akar spiritualnya. Hingga kini, rutinitas mingguan membacakan kitab Al-Hikam karya sufi besar Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari setiap bakda shalat Jumat tetap ia pertahankan.

Pengajian ini menjadi semacam oase, mengingatkan bahwa jabatan organisasi hanyalah alat pengabdian, sementara puncak dari segalanya adalah pembersihan hati nurani.

​Kisah KH Miftachul Akhyar bukanlah sekadar biografi tentang pendakian karier di organisasi Islam terbesar di dunia. Rekam jejaknya menawarkan refleksi historis yang tajam bagi manusia modern: bahwa di tengah bisingnya kontestasi kuasa dan pamer posisi hari ini, wibawa sejati seorang pemimpin justru sering berakar dari hal-hal remeh yang luput dari sorotan kamera.

Yaitu pada ketekunan menyemai akhlak di kampung sendiri, dan pada kerendahan hati meracik secangkir wedang hangat untuk siapa saja yang datang mengetuk pintu.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan