Kemlu menyebut ini cuma protokol yang berubah mendadak. Tapi jejak lain menunjukkan Iran sudah gerah duluan, sementara Indonesia terkesan ogah-ogahan sejak undangan pertama kali datang.
Duta Besar RI di Teheran berdiri di luar pagar Grand Mosalla, sementara jutaan warga Iran berdesakan mengantar jenazah pemimpin tertinggi mereka.
Versi resminya sederhana saja: Iran tiba-tiba mengubah aturan akses hanya beberapa hari sebelum acara berlangsung. Tapi begitu ditelusuri lebih jauh, cerita protokol ini terasa terlalu rapi untuk ditelan mentah-mentah.
Cerita resmi: protokol berubah dalam semalam
Menurut Menlu Sugiono, Indonesia awalnya memang berencana mengirim Dubes sebagai representasi resmi. Baru pada 2 Juli, pihak Iran mengabarkan aturan baru: akses hanya dibuka untuk pejabat setingkat di atas dubes.
Dan katanya, jadwal pejabat tinggi di Jakarta yang padat oleh kunjungan kenegaraan membuat Indonesia tak sempat mengirim pengganti.
Penjelasan ini rapi dan logis. Sayangnya, bukan satu-satunya versi yang beredar.
Ada cerita lain yang tak disebut Kemlu
Mantan Wakil Menlu Dino Patti Djalal memiliki kabar berbeda. Menurutnya, Iran sudah berulang kali mengundang pemerintah Indonesia mengirim delegasi resmi, tapi tak pernah mendapat tanggapan. “Mereka kan juga punya harga diri, tidak mungkin mengemis-ngemis kehadiran kita,” katanya, seperti dikutip berbagai media.
Kalau versi ini benar, urutan peristiwanya menjadi terbalik. Bukan Iran yang mendadak mempersempit akses, melainkan Indonesia yang dari awal tak kunjung merespons. Penyempitan akses hanyalah buntutnya, bukan pemicunya.
Dibandingkan dengan Delegasi Negara Lain
Di sinilah penjelasan “protokol mendadak” mulai terasa janggal. Pakistan mengirim presidennya langsung. Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Rusia, China, India, Malaysia, sampai Bangladesh mengirim menteri atau pejabat setingkat tinggi — sejak awal, bukan setelah aturan direvisi.
Skala acaranya sendiri tak main-main. Sekitar 110 negara mengirim perwakilan ke prosesi yang berlangsung enam hari ini, dari Teheran hingga pemakaman di Mashhad pada 9 Juli.





