Pemetaan awal bursa Ketua Umum PBNU mulai mengerucut. Seorang sumber internal menyebut sedikitnya lima poros tengah membangun kekuatan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
Dinamika politik menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mulai menghangat. Sejumlah tokoh disebut telah membangun komunikasi dan mengonsolidasikan dukungan untuk menghadapi pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Seorang sumber internal PBNU yang mengetahui dinamika tersebut menyebut sementara ini terdapat lima poros yang mulai bergerak menjelang Muktamar.
“Pemetaan sementara ada kubu Gus Ipul, kubu Nusron, kubu Gus Yahya, kubu Nasaruddin Umar, dan kubu Cak Imin melalui beberapa figur yang diproyeksikan untuk membangun komunikasi politik,” ujar sumber tersebut kepada Samudrafakta, Selasa (7/7/2026).
Menurut sumber itu, konfigurasi tersebut masih sangat cair dan berpotensi berubah hingga pelaksanaan Muktamar.
Gus Kikin Disebut Mulai Masuk Bursa
Dalam pemetaan tersebut, nama Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, disebut mulai diperhitungkan.
Sumber internal itu mengatakan Gus Kikin menjadi figur yang didorong dari poros Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Namun hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Gus Ipul maupun Gus Kikin mengenai dukungan tersebut.
Gus Kikin saat ini menjabat sebagai salah satu Ketua PBNU masa khidmat 2022–2027. Pada Januari 2024, ia juga dipercaya menjadi Penjabat Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur menggantikan KH Marzuki Mustamar.
Selain memiliki pengalaman organisasi, Gus Kikin merupakan cicit pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
“Secara nasab dan perjalanan organisasi, Gus Kikin punya peluang menjadi Ketua Umum. Pernah memimpin PWNU Jawa Timur, sehingga ada yang melihat kemiripan dengan perjalanan KH Hasyim Muzadi,” kata sumber tersebut.
Nama Nasaruddin Umar Ikut Dibicarakan
Selain Gus Kikin, nama Menteri Agama Nasaruddin Umar juga disebut masuk dalam pembicaraan sejumlah kalangan.
Namun, menurut sumber yang sama, peluang Nasaruddin dinilai tidak mudah karena saat ini masih menjabat sebagai menteri.
“Prof Nasar sulit menjadi Ketua Umum kecuali bersedia melepas jabatan Menteri Agama. Tetapi namanya tetap diperhitungkan dalam dinamika yang berkembang,” ujarnya.
Pemerintah Tegaskan Tidak Ikut Campur
Di tengah menghangatnya bursa Ketua Umum PBNU, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan menegaskan Presiden Prabowo Subianto tidak akan mencampuri proses Muktamar NU.
“Bapak Prabowo justru sangat menghormati kemandirian Nahdlatul Ulama. Beliau tidak akan ikut campur menentukan siapa yang memimpin. Jika ada yang mengaku didukung Presiden, itu tidak benar,” kata Gus Irfan di Surabaya.
Ia mengajak seluruh warga NU menjaga suasana Muktamar tetap sejuk dan tidak menjadikannya ajang perebutan kekuasaan layaknya kontestasi politik.
“Itu bukan ciri khas NU. Kita harus berkaca kepada para kiai pendahulu NU yang justru saling menolak untuk dipilih karena menyadari amanah itu harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” ujarnya.
Jadwal Penetapan Lokasi Masih Menunggu
Sementara itu, PBNU telah menyelesaikan survei terhadap lima provinsi dan sembilan calon lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.
Informasi mengenai waktu rapat penetapan lokasi masih berbeda. Sebagian sumber menyebut pembahasan dijadwalkan berlangsung pada Selasa (7/7/2026), sedangkan sumber lain menyatakan rapat gabungan baru akan digelar pada Kamis (9/7/2026).
Hingga berita ini ditulis, PBNU belum memberikan penjelasan resmi mengenai jadwal tersebut.***





