Pemerintah Kota Surabaya menargetkan Kebun Raya Mangrove Surabaya menjadi pusat laboratorium mangrove dunia seiring terjaganya ekosistem dan keanekaragaman satwa liar.
Kawasan konservasi pesisir di hilir Jawa Timur kini didorong untuk menjadi pusat penelitian internasional setelah berhasil mengonservasi puluhan vegetasi pesisir. Tempat ini tercatat mengoleksi 74 spesies mangrove atau menyumbang hampir 30 persen dari total 245 spesies yang ada di Indonesia.
Dian Prasetyaningtyas, Kepala Unit Pelaksana Teknis Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya, mengatakan integrasi pengelolaan dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) akan memperkuat fungsi riset global. Target utama difokuskan untuk mendatangkan seluruh varietas tanaman bakau nusantara ke dalam satu kawasan terpadu.
“Targetnya adalah bagaimana kita menjadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai laboratorium mangrove yang ada di dunia,” ujar Dian saat memberikan keterangan di Surabaya, Minggu, 28 Juni 2026.
Habitat Kucing Bakau dan Satwa Langka
Ihwal keanekaragaman hayati, area seluas 34 hektare yang mencakup wilayah Gunung Anyar dan Wonorejo ini menjadi rumah bagi 35 jenis burung, beragam kupu-kupu, hingga kepiting pemanjat pohon. Peneliti dari Universitas Negeri Surabaya juga mengonfirmasi keberadaan kucing bakau liar yang menjadi indikator mutu ekosistem.
Sebelumnya, KRM Surabaya dikukuhkan sebagai satu-satunya kebun raya tematik khusus mangrove dari total 48 kebun raya yang tersebar di Indonesia. Berbeda dengan kawasan hutan pantai biasa, area konservasi bentukan pemerintah daerah ini dirancang untuk memenuhi fungsi edukasi dan proteksi lingkungan secara berkelanjutan.
Selain itu, posisi geografis kota yang berada di wilayah hilir membuat ekosistem ini kerap menghadapi tantangan berupa kiriman sampah dari aliran sungai. Tumpukan sampah yang menyangkut di sistem perakaran dinilai dapat mengganggu pertumbuhan tanaman bakau secara jangka panjang.***





