Ekonomi tumbuh, tetapi rakyat bawah makin rentan. Prabowo menyebut data itu seperti pukulan di ulu hati.
Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam terhadap arah ekonomi Indonesia. Di hadapan rapat paripurna DPR, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026, ia menyoroti paradoks besar: ekonomi tumbuh, tetapi kelompok miskin-rentan miskin justru membesar.
Prabowo mengatakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam tujuh tahun terakhir. Namun, kata dia, pertumbuhan itu belum cukup mengangkat kesejahteraan rakyat secara merata.
Ia bahkan menyebut data sosial-ekonomi yang diterimanya setelah menjadi presiden terasa sangat menghantam.
“Saya merasa setelah saya terima data-data ini, beberapa minggu setelah saya jadi presiden, saya merasa seolah saya dipukul di ulu hati saya,” kata Prabowo dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) di hadapan DPR RI, Rabu, 20 Mei 2026.
Pertumbuhan Tak Otomatis Mengangkat Rakyat
Prabowo menyebut kelompok miskin dan rawan miskin naik dari 46,1 persen menjadi 49,5 persen pada periode 2017–2024. Pada saat yang sama, kelompok kelas menengah turun dari 22,1 persen menjadi 17,4 persen.
Menurut Prabowo, data itu harus dibaca secara ilmiah dan matematis. Ia mempertanyakan mengapa pertumbuhan ekonomi yang secara akumulatif mencapai sekitar 35 persen tidak otomatis membuat rakyat kecil naik kelas dan kelas menengah bertambah kuat.
Di sisi lain, indikator kemiskinan absolut versi Badan Pusat Statistik menunjukkan tren berbeda. BPS mencatat persentase penduduk miskin pada September 2025 sebesar 8,25 persen, turun dari Maret 2025 dan September 2024.
Target Besar RAPBN 2027
Pernyataan Prabowo muncul saat pemerintah mulai merancang arah fiskal 2027. Mengutip laporan Reuters, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8–6,5 persen, inflasi 1,5–3,5 persen, dan defisit fiskal 1,8–2,4 persen terhadap produk domestik bruto.
Prabowo menegaskan negara tidak boleh hanya mengejar angka pertumbuhan. Bagi dia, pertumbuhan harus terasa dalam kehidupan rakyat. Tanpa koreksi arah, ekonomi bisa terlihat sehat di atas kertas, tetapi gagal memperkuat daya tahan masyarakat bawah.***





