Pelemahan rupiah dinilai menjadi sinyal peringatan dini bagi ekonomi nasional. Ketergantungan impor membuat tekanan kurs bisa merembet ke harga kebutuhan pokok.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Rupiah turun 38 poin atau 0,22 persen ke posisi Rp17.706 per USD dari sebelumnya Rp17.668 per USD.
Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia pada hari yang sama juga melemah ke Rp17.719 per USD. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku usaha, terutama importir, karena biaya bahan baku dan barang impor berpotensi naik.
Pakar ekonomi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Muhammad Ubaidillah Al Mustofa mengatakan, depresiasi rupiah dapat menjadi sinyal peringatan dini bagi kondisi perekonomian nasional. Dampaknya akan makin besar jika konsumsi domestik masih bergantung pada barang impor.
“Jika rupiah terus terdepresiasi sedangkan kebutuhan konsumsi masih didominasi produk impor, maka kondisi ini dapat merugikan perekonomian dalam jangka panjang,” kata Ubaid, dikutip dari laman ITS, Rabu, 20 Mei 2026.
Tekanan Global dan Sentimen Investor
Dosen Departemen Studi Pembangunan ITS itu menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan di Selat Hormuz ikut mendorong kenaikan harga minyak dan energi dunia.
Reuters melaporkan harga minyak sempat naik ke level tertinggi dua pekan akibat kekhawatiran pasokan dari konflik Iran. Tekanan energi ini dapat merembet ke harga komoditas dan bahan baku industri.
Dari dalam negeri, Ubaid menyoroti sentimen investor terhadap arah kebijakan industri dan investasi. Ketidakpastian kebijakan dapat memicu arus modal keluar dari Indonesia dan meningkatkan permintaan dolar AS di pasar.
“Ketika investor menarik investasinya dalam bentuk dolar AS, maka permintaan dolar meningkat dan nilai rupiah semakin tertekan,” ujarnya.
UMKM dan Hilirisasi Jadi Penyangga
Meski demikian, Ubaid menilai ekonomi Indonesia di tingkat akar rumput masih relatif kuat karena ditopang usaha mikro, kecil, dan menengah. Konsumsi domestik serta aktivitas UMKM dapat menjadi bantalan di tengah tekanan ekonomi global.





