Sebelum ada laboratorium, ada acaraki. Dan ternyata, mereka tidak pernah salah.
Sebelum ada laboratorium, ada acaraki. Profesi peracik jamu kerajaan ini tercatat dalam Prasasti Madhawapura era Majapahit—setara pembuat pakaian (abhasana) dan pembuat kuali (angawari). Bukan pekerjaan pinggiran. Ini sistem kesehatan resmi negara.
Bukti visualnya terpahat di relief Karmawibhangga Candi Borobudur, abad ke-8. Dan sains modern kini membuktikan: para acaraki itu tidak keliru.
Lompatan paling mengejutkan terjadi di laboratorium. Nanopartikel kurkumin dari kunyit terbukti mampu menembus blood-brain barrier—tembok biologis yang selama ini jadi hambatan utama terapi penyakit neurodegeneratif. Potensinya mencakup Alzheimer, Parkinson, hingga sklerosis ganda.





