Ketegangan di kawasan Teluk Persia yang menghambat arus kapal di Selat Hormuz kini bereskalasi dari isu geopolitik. Hal itu akan menjadi ancaman nyata terhadap sistem pangan dunia, dengan jendela krisis diperkirakan hanya tersisa tiga bulan.
Kepala Ekonom FAO/Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, Máximo Torero, dikutip Jumat, 27 Maret 2026, mengatakan, gangguan ini telah memicu salah satu disrupsi tercepat terhadap arus komoditas global, terutama energi dan pupuk yang menjadi tulang punggung produksi pangan.
Dalam beberapa pekan sejak konflik meningkat, lalu lintas kapal tanker di jalur tersebut turun lebih dari 90 persen. Padahal, sekitar 35 persen minyak mentah dunia, 30 persen perdagangan pupuk, dan sebagian besar gas alam cair melewati koridor ini setiap hari.
Lonjakan harga energi segera diikuti kenaikan biaya produksi pertanian. Petani menghadapi tekanan ganda: harga pupuk naik dan bahan bakar semakin mahal.
Dampak Berantai ke Produksi Pangan
Torero menegaskan, dampak terbesar tidak terjadi saat ini, melainkan pada musim tanam berikutnya.
Jika gangguan berlangsung hingga tiga bulan, petani di berbagai negara akan mengurangi penggunaan pupuk, menunda tanam, atau menekan biaya produksi. Kondisi ini berujung pada penurunan hasil panen dan gangguan pasokan pangan global.
Negara yang sedang memasuki masa panen seperti Sri Lanka dan Bangladesh menjadi kelompok paling rentan dalam jangka pendek.
Sementara itu, negara-negara Afrika yang bergantung pada impor pupuk menghadapi risiko penurunan produksi dalam jangka menengah.
Harga Naik, Risiko Meluas
Tekanan juga meningkat di negara-negara importir pangan di kawasan Teluk seperti Qatar dan Uni Emirat Arab yang sangat bergantung pada pasokan luar negeri.
Jika harga minyak menembus 100 dolar AS per barel, kompetisi dengan sektor biofuel berpotensi mempersempit pasokan pangan. Komoditas seperti jagung dan kedelai bisa dialihkan untuk energi, mendorong harga pangan global semakin tinggi.
Dalam situasi ini, sebagian petani mungkin mendapat keuntungan dari kenaikan harga, tetapi konsumen akan menghadapi tekanan inflasi pangan.
Di sisi lain, jutaan pekerja migran di kawasan Teluk juga berisiko terdampak jika ekonomi regional melambat, yang dapat menekan aliran remitansi ke negara asal.
Jendela Waktu yang Menyempit
FAO menilai dunia masih memiliki peluang untuk menahan krisis jika langkah cepat diambil dalam waktu dekat.
Langkah jangka pendek mencakup pembukaan jalur logistik alternatif dan dukungan keuangan darurat bagi negara-negara yang bergantung pada impor pangan.
Untuk jangka menengah, negara didorong mendiversifikasi sumber pupuk, memperkuat cadangan pangan regional, serta menghindari kebijakan pembatasan ekspor.
Tanpa intervensi cepat, gangguan ini berpotensi berkembang menjadi krisis pangan global yang lebih luas dan berkepanjangan.
“Waktu terus berjalan,” kata Torero, menegaskan urgensi respons global sebelum dampak memasuki fase yang lebih sulit dikendalikan. ***





