Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) António Guterres memperingatkan eskalasi perang di kawasan Teluk telah melampaui kendali dan berpotensi memicu krisis global yang lebih luas.
Berbicara di Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, Rabu, 26 Maret 2026, Guterres menegaskan konflik berkembang jauh melampaui perkiraan para pemimpin dunia.
“Dunia menghadapi ancaman perang yang lebih luas, penderitaan manusia meningkat, dan guncangan ekonomi global yang semakin dalam. Ini sudah keterlaluan,” ujar Guterres dikutip dari keterangan tertulis.
United Nations Secretary-General @antonioguterres announces the appointment of seasoned diplomat Jean Arnault as his Personal Envoy to lead the UN efforts on the conflict in the Middle East.
Decrying the suffering of civilians, the UN chief urges an end to war. pic.twitter.com/mRV0zePXPd
— UN News (@UN_News_Centre) March 25, 2026
Tunjuk Utusan Khusus
Guterres mengumumkan penunjukan diplomat senior Jean Arnault sebagai Utusan Pribadi untuk memimpin upaya perdamaian.
Arnault akan bekerja langsung di lapangan untuk mendukung mediasi, membuka komunikasi dengan semua pihak, serta menilai dampak konflik yang terus meluas.
Sekjen PBB juga menyampaikan pesan tegas kepada para aktor utama. Ia mendesak Amerika Serikat dan Israel segera mengakhiri perang, serta meminta Iran menghentikan serangan terhadap negara-negara tetangga yang tidak terlibat konflik.
Ia turut menyoroti pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi minyak, gas, dan pupuk dunia.
Dampak Kemanusiaan dan Ekonomi
Guterres menegaskan dampak kemanusiaan semakin memburuk. Warga sipil di berbagai wilayah terdampak mengalami kerugian besar dan hidup dalam ketidakpastian.
Ia secara khusus menyoroti situasi di Lebanon, menyerukan Hizbullah menghentikan serangan ke Israel dan meminta Israel menghentikan serangan yang menimbulkan korban sipil.
Di sisi lain, dampak global mulai terasa. Pasar energi terguncang, operasi kemanusiaan terhambat, dan tekanan ekonomi meningkat, terutama di negara berkembang.
