Perayaan Tahun Baru Islam atau Malam 1 Suro tidak hanya dilakukan di Yogyakarta dan Solo. Berbagai daerah di Indonesia juga punya tradisi merayakan bulan Suro dengan ciri khasnya sendiri. Walau bentuk dan pelaksanaannya berbeda-beda, tradisi dan ritual yang menghiasi awal Bulan Suro memiliki kesamaan inti, yaitu menghormati peristiwa bersejarah yang terjadi pada bulan tersebut.
Bulan Muharam, sebagaimana diyakini oleh umat agama-agama Samawi, adalah momen yang penting dalam sejarah. Ini adalah bulan ketika para nabi berhasil membawa kemajuan bagi umat manusia.
Namun, khusus tanggal 10 Muharam, yang dikenal sebagai Hari Asyura, menjadi peringatan atas tragedi kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad Saw.
Menurut Japarudin dalam tulisannya Tradisi Bulan Muharram di Indonesia, yang diterbitkan dalam Jurnal Tsaqofah & Tarikh, ada beberapa tradisi unik umat Muslim Indonesia dalam menyambut Muharam.
1. Mubeng Beteng | Yogyakarta

Di Yogyakarta, menyambut bulan Muharam ditandai dengan ritual mubeng beteng. Dalam ritual ini, ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya mengarak pusaka-pusaka keraton mengelilingi benteng keraton. Selama menjalani ritual ini peserta dilarang berbicara satu sama lain, seakan sedang dalam tahap meditasi.
2. Cucuking Lampah | Surakarta, Jawa Tengah

Keraton Solo memiliki ritual yang berbeda dengan Yogyakarta. Ritual penyambutan Malam 1 Suro di sini dpimpin oleh seekor kerbau albino bernama Ki Slamet, yang dianggap keramat.
Ki Slamet dan para kerabat keraton membawa pusaka keramat sambil berjalan mengelilingi area keraton. Ritual ini melibatkan tidak hanya warga Solo, tetapi juga masyarakat dari Karanganyar, Boyolali, Sragen, dan Wonogiri.
3. Tajin Sora | Sumenep, Madura






