Di ujung timur Pulau Jawa, sebutir durian dengan daging kemerahan kini resmi diakui negara sebagai kekayaan yang tak bisa ditiru sembarang tempat.
Durian Merah dari Banyuwangi akhirnya memperoleh sertifikat Indikasi Geografis (IG), sebuah penanda hukum yang mengikatkan kualitas, reputasi, dan keaslian produk pada wilayah asalnya. Sertifikat tersebut diterbitkan oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia melalui Direktorat Merek dan Indikasi Geografis, menutup proses pengajuan yang telah dimulai sejak 2023.
Pengakuan ini menjadikan Durian Merah Banyuwangi sebagai durian pertama di Indonesia yang mengantongi status IG. Bagi pemerintah daerah, pencapaian tersebut bukan sekadar administratif, melainkan pengesahan atas sebuah identitas lokal yang tumbuh dari lanskap, iklim, dan pengetahuan warga setempat.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut sertifikasi itu sebagai momentum penting bagi produk hortikultura daerah. Menurutnya, status IG adalah validasi resmi atas keaslian dan mutu durian merah yang selama ini dikenal unik dan langka. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai alat strategis untuk mendorong ekonomi lokal.
Ipuk berharap pengakuan ini dapat meningkatkan produktivitas petani, terutama di Kecamatan Songgon yang selama ini dikenal sebagai sentra utama durian merah. Dalam jangka panjang, ia menilai status IG juga berpotensi memperkuat daya tarik Banyuwangi sebagai destinasi wisata berbasis pangan dan pertanian.
“Ayo datang ke Banyuwangi, nikmati durian merahnya. Karena durian merah Banyuwangi sangat unik yang tak dimiliki daerah lain,” ujar Ipuk, Sabtu (24/1/2026).
Keunikan itu, sebagaimana dijelaskan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Ilham Juanda, bukan sekadar soal warna. Durian Merah Banyuwangi—secara botani diklasifikasikan sebagai Durio zibethinus—memiliki karakter yang dibentuk oleh kombinasi faktor alam yang sangat spesifik: kondisi tanah vulkanik, iklim mikro pegunungan, serta ketinggian wilayah yang berpadu dengan teknik budidaya berbasis kearifan lokal.
Pengetahuan menanam dan merawat durian merah diwariskan secara turun-temurun. Di tangan para petani, proses itu membentuk profil buah yang sulit direplikasi di luar wilayah asalnya. Inilah prinsip utama Indikasi Geografis: kualitas yang lahir dari tempat, bukan sekadar dari varietas.
Secara visual, durian merah Banyuwangi menampilkan spektrum warna yang tidak tunggal. Ada yang merah penuh, merah pelangi, hingga merah semburat, seolah menandai keragaman genetik sekaligus karakter alamnya. Bentuk buahnya pun bervariasi, dari bulat hingga lonjong, dengan kulit berwarna kuning kehijauan.
Dari sisi daging, durian ini memiliki ketebalan antara 4,2 hingga 18,5 milimeter, dengan persentase daging mencapai 41,7 persen. Teksturnya dikenal lembut dan pulen, sementara rasanya menawarkan keseimbangan manis dan pahit yang harmonis, disertai aroma kuat yang menjadi ciri khas durian kelas premium.
Ilham juga menyoroti nilai gizi durian merah yang relatif menonjol. Buah ini disebut mengandung antioksidan tinggi, vitamin C, serta kadar lemak yang lebih rendah dibandingkan durian pada umumnya—sebuah kombinasi yang kian relevan di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap aspek kesehatan pangan.
Kelangkaan menjadi lapisan nilai berikutnya. Saat ini, baru enam pohon induk yang terdaftar secara resmi dalam skema IG, dengan estimasi produksi rata-rata sekitar 4 ton. Dari pohon-pohon inilah lahir enam varietas unggul nasional yang menjadi andalan durian merah Banyuwangi: Balqis, SOJ, Gandrung, Sayu Wiwit, Tawangalun, dan Madu Blambangan.
Penyebaran varietas tersebut masih terpusat di beberapa kecamatan strategis, antara lain Songgon, Rogojampi, Singojuruh, Glagah, Licin, dan Srono. Data pemerintah daerah menunjukkan bahwa sejak 2015, Banyuwangi telah mencatat sedikitnya 12 jenis durian lokal sebagai varietas unggul, dengan separuhnya merupakan durian merah.
Status Indikasi Geografis kini menempatkan durian merah bukan sekadar sebagai komoditas pertanian, melainkan sebagai simbol relasi antara alam, manusia, dan wilayah. Ia melindungi petani dari klaim sepihak, menjaga reputasi produk dari pemalsuan, sekaligus membuka peluang nilai tambah melalui pariwisata dan pasar premium.
Di tengah arus globalisasi pangan yang seragam, durian merah Banyuwangi mengajarkan satu hal sederhana namun mendasar: bahwa rasa, seperti identitas, tumbuh paling kuat ketika ia setia pada tanah asalnya.***





