Eks pengurus PBNU menyebut tiga tokoh berpeluang memimpin NU pada Muktamar ke-35 di Surabaya.
Dua bulan menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang bakal digelar pada 31 Januari 2026 di Surabaya, nama-nama tokoh yang berpeluang menahkodai organisasi Islam terbesar di Indonesia mulai mengemuka. Tiga di antaranya disebut langsung oleh mantan pengurus PBNU periode 2010–2015, Kiai Imam Jazuli atau Imjaz.
“Tiga nama itu adalah Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Ketua PBNU KH Zulfa Mustofa,” ujar Kiai Imjaz di Cirebon, Rabu (12/11/2025).
Ia menilai ketiganya mewakili spektrum kepemimpinan berbeda yang saling melengkapi. “Setelah melewati dinamika dan masa-masa sulit, warga Nahdliyin membutuhkan arah baru, bukan sekadar memilih figur,” katanya.
Menurut Imjaz, Muktamar tahun depan menjadi momentum merumuskan kembali karakter kepemimpinan NU di medan sosial, politik, dan kultural yang semakin kompleks. Ia menyebut para kiai dan santri telah melakukan istikharah serta menyeleksi kader yang layak memimpin PBNU.
Nasaruddin Umar: Kekuatan Struktural dan Modal Sosial
Kiai Imjaz menyebut Nasaruddin Umar memiliki pengalaman panjang dalam birokrasi keagamaan.
“Nasaruddin Umar adalah Menteri Agama RI sejak 2024 dan pernah menjadi Wakil Menteri Agama periode 2011–2014. Modal sosialnya kuat hingga ke daerah,” ucapnya.

Ia menilai jejaring struktural Kemenag menjadi keunggulan besar. Menurutnya, sekitar 160 struktur PW dan PCNU kini dipimpin pejabat Kemenag, sehingga komunikasi Nasaruddin dengan PWNU dan PCNU dapat berjalan intens.
Kiai Imjaz juga menyebut kabar mengenai dukungan Presiden Prabowo terhadap Nasaruddin sudah beredar di kalangan elite. “Tetapi Nasaruddin bukan politisi murni. Ia intelektual yang mendapat dukungan politisi,” katanya.
Nusron Wahid: Jejaring Kultural dan Pengalaman Politik
Jika warga NU menginginkan politisi murni, Imjaz menyebut Nusron Wahid sebagai nama yang paling kuat. “Di sana ada Gus Nusron Wahid. Jejaringnya di PCNU, PWNU, dan GP Ansor sangat solid,” ujarnya.
Ia menilai kekuatan Nusron terletak pada jangkauan kultural warga Nahdliyin. Prestasi saat memimpin GP Ansor dinilai menjadi bukti kemampuan organisasi. “Satu kata untuk Nusron: muda dan berprestasi,” tegasnya.

Menurutnya, jaringan Nusron juga menguat melalui Kanwil BPN di berbagai daerah yang kerap terlibat dalam kegiatan PWNU dan PCNU. “Namun baik Nasaruddin maupun Nusron sama-sama bermain di ranah pemerintahan,” kata Kiai Imjaz.
Zulfa Mustofa: Pemimpin Kultural dan Penjaga Tradisi
Untuk pilihan yang sepenuhnya kultural, Kiai Imjaz menilai KH Zulfa Mustofa sebagai sosok paling ideal.
“Secara intelektual, ia sebanding dengan Nasaruddin Umar,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa Kiai Zulfa memiliki kekuatan dalam khazanah turats atau warisan ilmu Islam klasik. Warga NU yang menginginkan pemimpin penjaga tradisi sosial, kebudayaan, ekonomi, dan politik disebut akan menemukan sosok tersebut pada Kiai Zulfa.
“Kekuatan kultural dan intelektual Kiai Zulfa tidak dimiliki Nasaruddin maupun Nusron,” tegasnya. Ia mengatakan dukungan dari pengurus struktural PBNU dan ulama pesantren juga sangat mungkin mengalir kepadanya.
Kiai Zulfa disebut memiliki kedekatan dengan partai-partai politik, termasuk PKB. “Ia pernah menyampaikan hal itu ketika memberi sambutan pada Lomba Baca Kitab Kuning Fikih Politik,” ujarnya.
Tiga Jalur Kepemimpinan, Tiga Arah Masa Depan NU
Kiai Imjaz menilai tiga kandidat memiliki keunggulan yang berbeda dan tidak saling meniadakan. Ia menyebut pemilihan ketua umum PBNU bukan sekadar kompetisi kekuatan, melainkan penentuan arah organisasi.
Nasaruddin melambangkan sinergi struktural negara. Nusron menggambarkan kekuatan kader dan jejaring politik. Zulfa mewakili akar kultural dan tradisi keilmuan.
“Dalam situasi seperti ini, warga Nahdliyin tidak hanya perlu melihat kekuatan saat ini, tetapi juga membaca tantangan masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, NU akan berhadapan dengan isu strategis seperti transformasi digital keagamaan, dinamika politik elektoral, kompetisi pengaruh antar kelompok Islam, hingga tugas memperkuat ekonomi umat.
Ia menegaskan pemimpin PBNU berikutnya harus mampu berperan sebagai ulama, manajer organisasi besar, komunikator publik, serta jembatan antara pesantren dan negara.
“Mereka semua adalah kader terbaik NU,” tutupnya.***





