Hasil kajian Lembaga Riset Institute for Demographic and Affluance Studies (IDEAS) menyimpulkan terjadi penurunan proyeksi jumlah orang yang berkurban tahun ini dibanding 2024. Bahkan diprediksi lebih rendah dari kurban di masa pandemi. Gara-garanya adalah turunnya jumlah masyarakat kelas menengah, bahkan kelas atas, di Indonesia.
__________
“Pada 2024 terdapat sekitar 2,16 juta orang yang berkurban, sedangkan pada 2025 ini jumlahnya sekitar 1,92 juta pekurban. Artinya, diperkirakan ada penurunan potensi sekitar 233 ribu pekurban dalam satu tahun terakhir,” kata Tira Mutiara, peneliti IDEAS, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu, 28 Mei 2025.
Menurut Tira, dari 1,92 juta rumah tangga Muslim berdaya beli tinggi yang berpotensi menjadi pekurban pada 2025 ini, kebutuhan hewan kurban terbesar berasal dari ‘doka’ (domba-kambing) sekitar 1,1 juta ekor, sedangkan sapi sekitar 503 ribu ekor.
“Kami juga memproyeksikan potensi nilai ekonomi kurban Indonesia pada 2025 sebesar Rp27,1 triliun. Proyeksi ini turun dari proyeksi 2024, yang diestimasikan mencapai Rp 28,3 triliun,” ujar Tira.
Estimasi jumlah pekurban pada 2025, yang sebesar 1,92 juta, bahkan lebih rendah dibanding saat pandemi, yang berkisar 2,11 juta pekurban pada 2021 dan 2,17 juta pekurban pada 2022.
Menurut kajian IDEAS, situasi ini terjadi karena ada penurunan masyarakat di kelas menengah—bahkan kelas atas—yang berpotensi menjadi pekurban di tahun ini. Kondisi ini diperparah dengan kurang memadainya kebijakan negara untuk menjaga kelas menengah dan atas tersebut.
“Inilah yang membedakan masa sulit tahun ini dengan masa pandemi,” ungkap Tira.
Walaupun krisis di saat pandemi skalanya jauh lebih besar dari tahun ini, kata Tira, saat itu penurunan aktivitas ekonomi terjadi merata secara global.
Namun, imbuhnya, kejatuhan kelas menengah saat itu banyak tertolong oleh tetap terjaganya sektor keuangan, stimulus ekonomi yang massif, dan kenaikan harga komoditas yang sangat signifikan. Pemulihan ekonomi kala itu disebut Tira juga memberi manfaat jauh lebih besar kepada kelas atas dan menengah, sehingga mereka bisa bertahan.
“Sedangkan krisis saat ini, banyak didorong oleh kejatuhan sektor industri manufaktur padat karya, yang menyebabkan terjadinya fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masif sepanjang 2024 hingga Mei 2025. Juga tingginya pengangguran di Indonesia, yang terjadi berkontribusi besar menjadi faktor utama penurunan pekurban tahun 2025,” jelas Tira.
Tira menguraikan, pada 2024 terjadi setidaknya 77.965 orang di-PHK. Penyumbang PHK terbesar adalah Jakarta, dengan catatan 17.085 orang di PHK, disusul berturut-turut oleh Jawa Tengah (13.130 orang), Banten (13.042 orang), dan Jawa Barat (10.661 orang).
Sementara itu, sejak Januari hingga 20 Mei 2025, terdapat 26.455 orang yang di-PHK. PHK ini juga melanda kota-kota besar, yang selama ini menjadi daerah yang surplus daging kurban atau daerah basis pekurban terbanyak.
Di samping itu, Tira melanjutkan, sentimen negatif terhadap kondisi ekonomi nasional, yang diiringi dengan melambatnya investasi dan kewaspadaan terhadap ketidakpastian ekonomi global akibat perang dagang Amerika Serikat dan China, mendorong banyak kelas menengah awal menahan konsumsi di luar kebutuhan pokok rumah tangga.
“Kondisi seperti ini sebetulnya sudah terasa sejak denyut perputaran ekonomi mudik menurun secara drastis, yang menyebabkan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun 2025 hanya tumbuh 4,87 persen,” pungkasnya.***





