Bahasa Daerah Terancam Punah, Anak Muda Menganggapnya Tidak Keren

Rendahnya minat generasi muda menuturkan bahasa daerah membuat bahasa-bahasa tradisional di Indonesia terancam punah. (Ilustrasi/SF)
Bahasa daerah yang ada di Indonesia terancam punah. Gara-garanya, generasi muda negara ini menganggapnya kampungan. Tidak keren di era globalisasi.

Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Imam Budi Utomo, mengungkapkan jika bahasa daerah sekarang ini benar-benar tidak aman. Mengalami kemunduran dan goncangan-goncangan, dampak globalisasi.

Iman mengaku pihaknya terus merancang strategi untuk melawan kepunahan bahasa daerah. “Harus kita identifikasi terlebih penyebab kepunahan bahasa daerah itu, sehingga kita bisa menentukan langkah dan strategi pelindungannya,” katanya kepada media, Kamis, 16 Januari 2025.

Faktor paling utama yang membuat bahasa daerah terancam punah, kata Imam, adalah makin rendahnya minat penutur muda terhadap bahasa ini.

Bacaan Lainnya

Dalam Ethnologue: Language of The World (2021), Indonesia tercatat memiliki sekitar 742 bahasa atau 10 persen dari total bahasa di dunia. Namun, disebutkan bahwa pada akhir abad-21, bahasa daerah di Indonesia, sebagaimana bahasa-bahasa daerah lain di dunia, akan punah hingga lebih dari 50 persen dari jumlah yang ada saat ini.

Imam menyebutkan, berdasarkan data long form Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, hanya sekitar 60 persen generasi muda yang masih menggunakan bahasa daerahnya, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Keengganan memakai bahasa daerah itu karena berbagai alasan. Misalnya, merasa tidak keren, tidak memiliki prestise, atau kampungan.

Untuk mengantisipasi kepunahan itulah, kata Imam, pihaknya membikin program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD).”Menyasar penutur muda usia SD/MI dan SMP/MTs dengan materi dan pembejalajaran yang menyenangkan, termasuk memanfaatkan platform digital,” kata dia.

Imam mengklaim peminat program tersebut terus bertambah.

“Jika data awal 2021 penutur muda yang terlibat dalam pembelajaran hanya 1,2 juta, pada 2024 tercatat lebih dari 12 juta. Jika pada 2021 hanya di 3 provinsi dengan 5 bahasa daerah, pada 2024 dilaksanakan di 38 provinsi dengan 114 bahasa atau dialek,” lanjutnya.

Pos terkait