Bisnis Durian yang Tak Mempan Dihantam Krisis Pangan

Durian premium yang dipajang sebagai 'display' di salah satu kios durian di kawasan Jakarta Timur. Bisnis durian disebut makin menjanjikan dari tahun ke tahun. (Dok. SF)
JAKARTA—Ketika banyak negara di dunia dihantui krisis pangan, bisnis durian justru menangguk banyak cuan. Permintaan global terhadap si raja buah ini melonjak tinggi. Prospek bisnis durian semakin legit. Valuasi pasar durian global diproyeksikan menyentuh USD28,6 miliar pada tahun 2025, dengan tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 7,2 persen.

Status durian pun kini bukan lagi buah lokal. Daya tariknya telah menyebar ke seluruh dunia. Peningkatan minat konsumen dari berbagai negara terhadap durian telah membuka peluang ekspor yang signifikan.

Pemanfaatan teknologi dan platform e-commerce juga telah mengubah cara bisnis durian, yang sangat bermanfaat untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan aksesibiltas produk durian.

Laporan HSBC pada tahun 2023 menyebut bahwa dari tahun ke tahun, permintaan durian meningkat hingga 400 persen. Salah satu sebabnya, sebagaimana dilaporkan BBC, adalah konsumsi durian secara gila-gilaan yang berlangsung di China.

Bacaan Lainnya

“Melawan tren global, permintaan durian melonjak 400 persen year-on-year, yang disebabkan oleh kegilaan di China,” demikian laporan yang dirilis oleh HSBC, sebagaimana dilansir oleh CNBC International pada Rabu, 13 September 2023 tahun lalu.

Selama dua tahun terakhir, menurut data HSBC, China tercatat telah mengimpor durian senilai USD6 miliar, atau setara Rp92,2 triliun. Ekonom ASEAN HSBC Aris Dacanay dalam laporannya menyebut jumlah ini merupakan 91 persen dari permintaan global.

“Ledakan durian’ yang sebagian besar terkonsentrasi di China terjadi karena konsumen tidak melihatnya hanya sebagai buah, namun, juga sebagai “hadiah” yang memamerkan kekayaan si pemberi.

Sebagai infomasi, di China, durian sudah menjadi bagian dari hadiah adat kepada teman dan kerabat saat pertunangan. Meskipun lonjakan permintaan durian di China dimulai pada awal tahun 2017, menurut data HSBC, peningkatan permintaan tersebut baru meningkat pada akhir tahun 2022.

“Apakah durian akan menjadi karet baru? Mungkin suatu hari nanti, memberi durian kepada ibu mertua akan menjadi tradisi dunia. Hanya waktu yang akan menjawabnya,” kata Dacanay.

Perlu diketahui, “si raja buah” dijual dengan harga lebih dari USD10 atau Rp153 ribu per kilogram di China. Padahal, rata-rata Asia Tenggara hanya menjual sekitar USD6 atau sekitar Rp92 ribu per kilo.

Beberapa negara di ASEAN merupakan pemasok utama buah ini, yang menyumbang hingga 90 persen ekspor durian dunia pada tahun 2022.

Thailand, misalnya, menyumbang 99% dari total ekspor durian di 10 negara blok Asia Tenggara. Lonjakan permintaan durian juga membawa peluang bagi negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Vietnam. Mengutip South China Morning Post (SCMP), harga per kilogram buah durian asal Vietnam bisa mencapai USD4. Ini jauh lebih murah dibandingkan asal negara Asia Tenggara lain.

“Pasar di China begitu besar sehingga ada banyak ruang bagi negara-negara ASEAN lainnya untuk ikut serta dan bersaing-semacam durian,” tulis Dacanay.

“Ada peluang besar. Pasar durian masih semakin besar, seiring dengan semangat negara-negara lain di ASEAN untuk bersaing melawan dominasi Thailand atas raja buah-buahan,” pungkas Dacanay.

Peluang bagi Durian Indonesia

Di Indonesia sendiri, potensi ekspor durian sebenarnya sangatlah besar. Kekayaan varietas durian, kualitas buah yang terjaga, serta makin meningkatnya permintaan global terhadap durian membuat Indonesia memiliki peluang emas untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan ekspor.

Pos terkait