Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenKop dan UKM) memperkirakan permintaan buah durian secara global meningkat sebesar 7,1 persen pada 2020 hingga 2026. Peluang ini bisa dimanfaatkan petani lokal untuk mengembangkan bisnis di kancah internasional.
Menurut Hanung Harimba Rachman, Deputi Bidang UKM KemenKop dan UKM, untuk bisa mengoptimalkan peluang tersebut, perlu adanya kemitraan antara usaha menengah besar dengan UKM. Tujuannya agar bisa meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing petani durian.
Hanung menyebut bahwa kemitraan bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti penyediaan bahan baku, pemasaran, serta pengembangan teknologi dan pembangunan ekosistem rantai pasok produksi. Dengan kata lain, program ini merupakan hilirisasi pertanian yang berbasis UKM.
“Ini membuka peluang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor durian,” kata Hanung dalam keterangannya pada Selasa, 16 Januari 2024 lalu.
Sementara itu, Dewan Pembina Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin) Aditya Pradewo menerangkan bahwa durian dari salah satu daerah dengan produksi terbaik di Indonesia, yakni di Kabupaten Parigi, Provinsi Sulawesi Tengah, telah masuk pasar internasional, antara lain ke Thailand dan Malaysia.
Kendati demikian, kata Aditya, ekspor ini tak begitu dikenal, lantaran adanya masalah berupa klaim sepihak dari otoritas setempat. Akibatnya, pasar tidak menyadari jika durian yang dikonsumsi di Thailand dan Malaysia impor aslinya dari Indonesia.
“Banyak produk durian yang dikirim ke Thailand, tapi dicap produk Thailand. Ini tantangan, yaitu bagaimana supaya produk kita memenuhi standar agar bisa langsung ekspor ke China,” katanya.
Aditya pun mengajak para pelaku usaha durian agar mampu memenuhi kebutuhan sesuai standar internasional. Salah satu caranya adalah dengan berkolaborasi mendorong UKM yang sudah bagus, agar mampu menjaga kualitasnya untuk tetap stabil.
Badan Karantina (Barantan) Indonesia sendiri menyatakan siap memfasilitasi akses pasar dan upaya percepatan lainnya untuk menjangkau pasar ekspor durian asal Kota Palu, Sulawesi Tengah ke Tiongkok.
“Kami siap fasilitasi akses pasar dan mengawal persiapan ekspor durian, termasuk tahap audit kebun dan rumah kemas durian,” kata Kepala Batantan Indonesia, Sahat M. Panggabean, dalam acara lokakarya penguatan pasar ekspor durian berlangsung di Kota Palu, Senin (26/2/2024).
Ia menjelaskan, pada tahun 2020 Barantan Indonesia telah mengajukan akses pasar durian ke pemerintah Tiongkok (GACC) sebagai salah satu negara tujuan ekspor, dan telah ditanggapi pada 2023 dengan disampaikannya hasil analisis risiko durian.
“Langkah selanjutnya, perlu mempersiapkan audit kebun dan rumah kemas durian di Indonesia untuk memperkuat dukungan pasar,” ucapnya.
Menurut Sahat, pasar durian di Tiongkok merupakan pasar yang menjanjikan–apalagi mengingat terdapat lonjakan permintaan komoditas itu hingga 400 persen dari tahun ke tahun.
Selain itu, selama dua tahun terakhir Tiongkok telah mengimpor durian hingga mencapai 91 persen dari permintaan global, dan dinilai menjadi peluang besar bagi durian Indonesia memenuhi pasar Tiongkok.
Melansir dari Tempo, pada tahun 2021, nilai ekspor durian Indonesia mencapai Rp63 triliun. Sedangkan pada tahun 2022 turun menjadi Rp57 triliun. Potensi yang sangat menjanjikan, dan diprediksi bakal tumbuh dari tahun ke tahun.◼︎





