Kasus keracunan makanan massal kembali terjadi di Tasikmalaya. Lebih dari 400 pelajar di sejumlah sekolah dilaporkan mengalami mual, muntah, pusing, dan diare usai menyantap Menu Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada Rabu, 30 April 2025 lalu.
__________
Kejadian ini menimbulkan keprihatinan luas, termasuk dari kalangan akademisi dan tenaga kesehatan. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), Dede Nasrullah, menilai pemerintah perlu segera mengevaluasi total penyelenggaraan program MBG, khususnya dalam pengawasan kualitas makanan.
“Semua tahapan harus diawasi ketat, mulai dari pengadaan bahan, pengolahan, hingga penyajian. Ini menyangkut kesehatan anak-anak,” ujar Dede dikutip dari laman UMS, Ahad, 4 Mei 2025.
Dede menegaskan, standar operasional (SOP) pengolahan makanan harus diperketat. Menurutnya, sedikit kelalaian bisa berdampak fatal. Ia meminta pemerintah lebih selektif dalam menunjuk penyedia jasa makanan, termasuk memastikan mereka punya kompetensi gizi dan higienitas.
“Kalau terbukti lalai, izinnya harus dicabut. Ini bukan sekadar proyek, tapi tanggung jawab terhadap generasi penerus,” tegasnya.
Kepada masyarakat, Dede mengimbau agar mulai mengenali ciri-ciri makanan basi dengan menggunakan pancaindra. Bau asam, tekstur berlendir, dan perubahan warna harus diwaspadai. Ia juga menyebut makanan berbasis karbohidrat seperti nasi dan lontong sangat mudah basi bila disimpan pada suhu ruang terlalu lama. “Distribusi dan penyimpanan harus sesuai standar. Jangan asal kirim,” katanya.
24 Siswa Dirawat, 1 Dirujuk
Pantauan Jabar News di Puskesmas Rajapolah, hingga Kamis malam (1/5), 24 siswa dirawat akibat gejala keracunan. Delapan di antaranya masih mendapat perawatan intensif, dan satu siswa dirujuk ke rumah sakit atas permintaan keluarga. “Rata-rata mengalami mual, muntah, dan diare,” ujar Kepala Puskesmas Rajapolah, Hani Hariri.
Menu yang dikonsumsi para siswa hari itu terdiri dari daging, tahu goreng, anggur, dan sayur labu. Riska Damayanti, salah satu siswa yang dirawat, menyebutkan bahwa labu terasa basi. “Kayaknya dari labunya, soalnya udah asam,” ucapnya.
Menanggapi kejadian ini, relawan MBG Rajapolah menyampaikan permintaan maaf. Mereka juga menyatakan tengah melakukan evaluasi internal. Namun dalam pesan singkat kepada orang tua siswa, mereka juga meminta agar kejadian ini tidak dulu disebarluaskan di media sosial.
Sikap ini menuai tanda tanya. Pasalnya, kasus serupa sebelumnya juga terjadi di wilayah Tasikmalaya, dengan ratusan siswa mengalami gejala yang sama. Sayangnya, hingga kini belum ada tindakan tegas dari pemerintah terhadap penyedia makanan.
“Ini bukan sekadar soal makanan gratis, tapi soal manajemen distribusi dan keselamatan anak-anak,” tandas Dede Nasrullah.***





