Si Jenius R.M.P Sosrokartono [3]: Penasihat Spiritual Sukarno, Mandor Klungsu, dan Joko Pring Si ‘Peramal’ Jitu

R.M.P. Sosrokartono di usia senja. FOTO: Buku "R.M.P. Sosrokartono: Sebuah Biografi" (1987)
Mandor Klungsu

Sosrokartono juga memiliki nama samaran “Mandor Klungsu”. Nama ini digunakannya dalam surat bertanggal 12 Mei 1931, yang dia tulis untuk warga Monosuko, ketika dia pertama kali mengunjungi Sumatera atas undangan Sultan Langkat.

Muhammad A. Suryopati dalam buku Ajaran-Ajaran Adiluhung Raden Mas Panji Sosrokartono (2015), menyatakan bahwa istilah “Mandor Klungsu” memiliki beberapa penafsiran—kendati Sosrokartono sendiri tidak menjabarkannya secara rinci.

Bacaan Lainnya

Menurut Suryopati, kata “klungsu” berasal dari Bahasa Jawa yang berarti “biji buah asam”. Biji buah asam ini bentuknya kecil. Akan tetapi, di balik tampilan luarnya, terkandung sesuatu yang besar dalam klungsu. Sebab, biji kecil tersebut dapat tumbuh sebuah pohon asam yang besar, rindang, dan kokoh.

Pohon asam sendiri, kata Suryopati, memiliki banyak manfaat dan khasiat pada hampir seluruh bagiannya. Buahnya biasa digunakan sebagai bahan obat-obatan tradisional yang dipercaya bisa menyembuhkan banyak penyakit. Makna ini, menurut Suryopati, bisa jadi berkaitan dengan salah satu laku Sosrokartono, yang mengabdikan hidupnya pada dunia pengobatan.

Dengan demikian, menurut Suryopati, dapat disimpulkan bahwa istilah “klungsu” yang digunakan oleh Sosrokartono memiliki makna bahwa yang paling penting dalam hidup ini bukan apa yang terlihat secara fisik maupun status sosial, melainkan seberapa bergunanya seseorang bagi orang lainnya.

Sedangkan kata “mandor”, menurut Suryopati, dapat diartikan sebagai “orang yang bijak” atau “orang yang tetap merasa rendah hati” meskipun memiliki banyak kelebihan. Sebab, Suryopati menerangkan, pada dasarnya seorang mandor hanya bertugas mengawasi suatu pekerjaan yang dipasrahkan oleh bos atau pemilik proyek.

Perilaku tersebut, menurut Suryopati, dipraktikkan oleh Sosrokartono, di mana dia tidak pernah membangga-banggakan status sosialnya sebagai anak bangsawan. Sosro juga tidak pernah membangga-banggakan kemampuan poliglotnya dan pendidikan tingginya. Dia bahkan menolak tawaran Sukarno untuk menjadi menteri setelah Indonesia Merdeka.

Sang Alif memilih hidup sebagai orang biasa. Sebab, menurut Suryopati, yang terpenting bagi Sosrokartono adalah bisa berguna bagi sesamanya.

“Itulah wujud pengabdian diri kepada sesama, yang dalam ajaran Sosrokartono disebut dengan konsep ngawulo marang kawulane Gusti—yang sesuai dengan tugas manusia dalam agama Islam, di mana selain menjadi hamba Tuhan, manusia juga merupakan seorang khalifah,” tulis Suryopati.

Pos terkait