Pertemuan dan Kedekatan Prabowo dan Gus Dur
Dikutip dari laporan antaranews.com, pada Rabu Sore, 12 November 2008, sekira pukul 18.12, Prabowo Subianto menemui mantan presiden Abdurrahman Wahid di gedung PBNU, Jakarta. Kala itu suasananya menjelang Pemilu 2009.
Usai pertemuan yang hanya berlangsung sekitar 10 menit itu, Prabowo menyebut bahwa kunjungan kali itu adalah kunjungan pribadi.
“Ini kunjungan pribadi, tak ada agenda khusus. Sudah lama saya tak ketemu beliau,” kata ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu, dikutip dari antaranews.com
Prabowo menolak jika kedatangannya itu disebut terkait agenda politik Pemilu 2009. Meski demikian, Prabowo tidak menampik jika kunjungannya itu memiliki dimensi politis, mengingat keduanya sama-sama bermain di arena politik.
“Ya, namanya tokoh nasional kita saling meminta pandangan, menjalin komunikasi politik,” katanya.
Mantan Panglima Kostrad itu mengatakan, ia juga melakukan komunikasi politik dengan partai dan tokoh politik lainnya, selain Gus Dur.
“Sama siapa saja kita berkomunikasi. Dalam politik semua mitra,” katanya.
Ketika ditanya apakah kedatangannya untuk meminta restu Gus Dur, Prabowo hanya tertawa.
Hal senada dikemukakan Gus Dur kala itu. Menurut dia, pembicaraannya dengan Prabowo hanya obrolan pribadi sebagai sesama saudara.
“Kami bersaudara sudah lama. Memang Prabowo juga mengatakan ia menjadi Capres dari Gerindra, ya sudah, bagus,” katanya. Ketika ditanya apakah ia merestui Prabowo menjadi Capres, Gus Dur santai menjawab, “Kenapa tidak? Restui saja”.
Dalam buku Kemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto, Prabowo juga menulis jika Gus Dur merupakan seorang mentor dalam kehidupannya. Mengingat hubungan keduanya sudah terbangun cukup lama sejak ia masih berpangkat mayor.
“Pelajaran paling penting yang saya ambil dari Gus Dur adalah sifat beliau yang selalu moderat. Dengan siapa pun dia tidak mau bermusuhan, dan dia selalu mengayomi,” ujar Prabowo dalam sebuah keterangan tertulis yang disampaikan pada Senin, 6 Desember 2021.
Dalam buku tersebut, Prabowo menjelaskan hubungannya dengan cucu pendiri NU ini berawal dari kedekatan ibunda Gus Dur dengan eyangnya. Selain karena bertetangga di Jalan Matraman 10, Jakarta Timur, usia ibunda Gus Dur dan eyangnya juga hampir sama.
“Kalau sudah suatu usia dan bertetangga, biasalah, budaya suka ngerumpi bersama,” kata Prabowo ketika itu.
“Saya terharu, waktu nenek saya meninggal, ibunya Gus Dur yang memandikan nenek saya. Demikian hubungan dekat mereka,” imbuhnya.
Prabowo juga mengungkapkan bahwa secara pribadi, dirinya juga mengenal baik Gus Dur. Meskipun demikian, ia mengaku tak selamanya keduanya memiliki pandangan yang sama tentang sesuatu hal.
“Kita ada perbedaan pandangan, tapi, ya, di ujungnya saya sadar bahwa Gus Dur orang yang sangat visioner,” katanya.
Prabowo menyatakan sikap Gus Dur yang tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun dan selalu mengayomi juga berpengaruh terhadap dirinya.
“Dia (Gus Dur) baik sama orang Nasrani, Kristiani, bahkan sama orang Yahudi pun dia berani buka hubungan. Yang penting kita berhubungan, yang penting kita dialog. Belum tentu kita setuju dengan pendapatnya,” paparnya.
“Jadi, sifat untuk menghormati semua orang, sifat untuk mencari titik titik temu ini pengaruh terbesar beliau kepada saya. Semoga Hal ini dapat saya bagikan kepada saudara melalui buku ini,” tambahnya.





