“Menurut pendapat saya, pemerintahan Sukarno masih yang terbaik di Indonesia. Tapi dia punya banyak musuh dari negara-negara Barat, karena dia itu anti-kolonialisme, anti-kapitalisme, dan anti-imperialisme. Dia sudah menduga bahwa kaum Barat hanya ingin menjadikan dunia ini menjadi ladang dolarnya,” kata Pramoedya dalam wawancara bersama Andre Vltchek dan Rossie Indira, dikutip buku Saya Terbakar Amarah Sendirian (2006).
Kekurangan wawasan kebangsaan makin terlihat nyata seiring munculnya tragedi kekerasan di Timor Timur –Tragedi Santa Cruz— tahun 1991. Pram menyebut, penyerangan dan tindakan represif aparat sebagai bentuk kebodohan yang keterlaluan.
Di mata Pram, pemimpin Indonesia tak mau belajar dari masa lalu. Indonesia sejatinya berdiri melawan penjajahan. Kala itu, Indonesia yang sudah menjadi negara cukup besar, nyatanya malah menjajah.
“Memalukan! Kok melawan penjajahan terus menjajah? Itukan bodoh,” kata Pram.
Pram pernah menyatakan, jikalau benar pemimpin Indonesia setelah Sukarno itu Pancasilais, maka dalam sengketa Timor Timur, figur tersebut harusnya berlaku bijaksana. Bantu rakyat Timor Timur dengan dana-dana, ahli-ahli, lalu biarkan Timor-Timur merdeka. Itu, menurut Pram, sudah menjadi hak Timor Timur.
Jika wawasan kebangsaan pemimpinnya mumpuni, maka perang dan pembunuhan terus-menerus—sampai 1/3 penduduk Timor Timur dibantai—tidak akan terjadi.
Pun dengan pemimpin-pemimpin sesudah Soeharto. Sebagai contoh, lingkungan hidup di Indonesia dihancurkan setiap hari. Namun, tak ada satu pun politikus atau calon presiden Indonesia yang mau melakukan aksi penyelamatan lingkungan skala besar. Faktanya, hutan-hutan di Indonesia dijarah setiap hari. “Dan kenapa justru negara tetangga yang mendapatkan banyak keuntungan? Mereka jadi tak perlu merusak hutan negaranya. Cukup berinvestasi di Indonesia saja,” lanjut Pram.
Dalam wawancara bersama Andre Vltchek dan Rossie Indira—yang berlangsung dari Desember 2003 sampai April 2004—di kediamannya di Jakarta, Pram mengemukakan kenyataan-kenyataan pahit lain.
“Jadi, memang saya harus bilang pemerintahan kolonial dulu lebih baik dari pemerintahan yang ada sekarang ini. Memang kurang enak didengar ya, tapi coba saja lihat di sekitar Anda. Siapa yang bisa dipilih sebagai calon presiden? Tidak ada seorangpun yang punya wawasan keindonesiaan, dan tidak seorangpun punya prestasi individual,” Pram.
“Yang bisa mereka lakukan hanya bicara omong-kosong saja. Tidak ada kampanye yang benar-benar, karena tidak ada yang bisa mereka bicarakan. Buat saya, mereka semua hanyalah badut-badut,” tambah Pram.





