Mengenang Pram, Mengingat Cara Mendidik Penguasa

Mengingatkan Penguasa yang Melenceng

Pramoedya Ananta Toer, dalam Jejak Langkah, menulis. “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.”

Bacaan Lainnya

Mengutip pernyataan Pram, bahwa kata dongeng: negeri itu memasyhurkan, menjunjung, dan memuliakan kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Kami ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan. Mari mendidik penguasa!

Ide ini sangat kontekstual dengan kondisi mutakhir, di saat kaum intelektual dari sivitas akademika berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta menyampaikan suara moralnya.

Pram mengibaratkan rakyat, wong cilik selalu menjadi korban kekisruhan politik dan perlakuan negara yang lalim. Ibarat kerbau yang dicucuk hidungnya, rakyat hanya diberi tahu mana yang terbaik untuknya tanpa pernah dilibatkan langsung menjadi subjek atau menjadi orientasi para penguasa dalam pembuatan kebijakan. Yang ada di pikiran kebanyakan penguasa saat ini hanyalah nafsu kuasa dan melanggengkan kekuasaan itu selamanya.

Hal itu bisa terjadi karena selama ini penguasa dipahami sebagai pendidik andal. Mereka berasal dari kalangan terdidik dengan segala gelarnya yang Mahaagung. Adapun rakyat ialah sekumpulan orang mayor bernada minor karena minimnya kalangan terdidik. Oleh karena itu, para penguasa yang mengemudikan negara ini menjadi superior dan antikritik.

Negara harus melindungi, mencerdaskan, dan memastikan rasa aman mereka. Namun, yang dipahami tentang negara bukanlah seperti yang disebutkan di atas. Negara, menurut Pram, ialah mereka yang suka memukul, mengintimidasi, mengambil yang bukan haknya, bersikap sewenang-wenang .

Andai saja negara tetap bersikukuh dengan sikapnya yang arogan itu, kata Pram, di sinilah letak rakyat bersikap. Rakyat butuh ikhtiar lebih dibandingkan hanya diam dan mendiamkan penguasa. Rakyat harus mulai berorganisasi dan berjejaring bersama gerakan-gerakan sosial yang ada di masyarakat dengan lebih serius; rakyat harus mulai membaca koran ataupun buku-buku tebal yang dikarang para filsuf dan berani menulis di koran-koran serta berargumen di muka umum.

Semua itu dilakukan dalam rangka memengaruhi opini publik: bahwa penguasa sedang mabuk. Rakyat tak perlu menggulingkan penguasa. Rakyat hanya perlu mengingatkan penguasa bahwa ada sesuatu yang salah di negeri ini. Rakyat harus berani mendidik penguasa dengan perlawanan yang bijak.

Pos terkait