Garin juga menyampaikan analisanya, yang menyebut Indonesia sedang mengalami krisis humaniora. Gegaranya adalah karena kepemimpinan di negeri ini dinilai kurang peduli. Maka dari itu, Garin menyatakan ragu cita-cita generasi emas Indonesia pada 2045 bisa terwujud.
“Yang mendominasi panggung ketatanegaraan dan politik di sini adalah politisi yang populer, tokoh agama yang memiliki massa besar, militer dan para “preman politik,“ kritik Garin.
Menurutnya, pembangunan politik dan ekonomi tanpa pembangunan sosial atau sentuhan humaniora bakal berujung kemudharatan atau kerugian, karena rakyat di akar rumput cuma menjadi konsumen atau penonton.
Situasi ini, menurut Garin, berbeda dengan yang berlangsung di Korea Selatan. Negeri Ginseng secara sistematis merancang industri kreatif berbasis budaya lokal, termasuk film, kuliner, dan musik dengan mengumpulkan orang-orang terbaik di bidangnya, sehingga produknya digandrungi terutama para remaja di berbagai belahan dunia—termasuk Indonesia.
Sementara di Singapura, ungkap Garin, para pelaku budaya dari Komunitas Melayu mendapatkan subsidi dari negara untuk mengembangkan kreativitas budaya.
Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Parni Hadi, dalam pidato kunci saat membuka acara mengungkapkan kegelisahan dan kesedihannya. Dia mempertanyaakan mengapa bangsa Indonesia tidak maju-maju.
“Jumlah orang miskin tidak berkurang, masih banyak jumlahnya, ingin memberantas kemiskinan, tapi kok masih banyak yang miskin, apa yang salah? (padahal) kita punya Pancasila,” kata Parni.
Parni mengatakan, bangsa Indonesia punya Pancasila yang luhur, agung dan indah. Tapi seperti tidak ada dampaknya secara nyata, maka apa yang salah. “Jangan-jangan bangsa ini hanya pandai berteori saja, tapi tidak becus melaksanakan,” sindirnya.
“Saya sedih. Tatkala korupsi, tatkala culas, bohong, curang, dan mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan bangsa dan negara, sudah menjadi hal biasa, tatkala ideologi sekadar menjadi basa basi, menurut saya itu tanda kemerosotan budi pekerti (bangsa),” tandas Parni.
Parni menambahkan, ideologi yang diagung-agungkan yakni Pancasila juga dianggap basa basi, diseminarkan dan didiskusikan berkali-kali. Itu tanda kemerosotan budaya.





