Zuhri Alamsyah, ‘Pahlawan’ bagi Jemaah Haji Indonesia saat Tragedi Muzdalifah

Menurut Alam, lambatnya kedatangan bus penjemput jemaah RI bukan karena kemacetan. Sebab, dia melihat banyak bus kosong melintas, namun tak ada yang mau berhenti. Hanya bus tertentu yang bersedia mengangkut jemaah Indonesia, itu pun seperti ceritanya tadi, hanya 1 bus per 40 menit.

Sekitar pukul 11.00 WAS, Alam kembali melapor ke atasan. Dia meminta restu untuk melakukan tindakan di luar formalitas pencarian bantuan. Atasannya pun mengizinkan.

Alam ternyata berbuat nekat. Dia mengadang bus yang melintas dengan tubuhnya. Satu bus terpaksa berhenti mendadak saat menghadapi tubuh tambun Alam di tengah jalan. Namun, sopir bus itu ternyata tak berniat benar-benar berhenti. Bus yang dibawanya tetap digas pelan-pelan, mendorong-dorong tubuh Alam yang mencoba menahan dengan tangan.

Bacaan Lainnya

Tak habis akal, Alam meminta bantuan jemaah untuk membawakannya satu buah kursi roda. Dia lalu melempar kursi roda itu ke depan bus. Sopir bus akhirnya terpaksa berhenti total.

Perdebatan terjadi antara Alam dan sopir bus yang merupakan warga Saudi. Alam meminta sopir bus itu mengangkut jemaah haji Indonesia yang sudah telantar berjam-jam. Namun yang terjadi adalah dialog dengan urat leher menegang tanpa saling memahami. Alam tak bisa bahasa Arab, sementara si sopir tak bisa berbahasa Indonesia.

“Saya tak akan biarkan satu pun bus kosong lewat tanpa ngangkut jemaah Indonesia,”  Alam menceritakan perkataannya kepada sopir bus.

Aksi Alam yang masih mengenakan ihram ternyata mengakibatkan kemacetan panjang di Muzdalifah. Bus-bus kosong berbaris tersendat adangan kursi roda dan tubuhnya. Alam bertahan di tengah jalan, tak mau menyingkir hingga jemaah haji Indonesia diangkut ke Mina.

Pos terkait