Kedatangan Dr. Zakir Naik ke Indonesia sejatinya lebih dari sekadar lawatan dakwah. Ia adalah dentingan kecil yang menggetarkan genta besar kehidupan beragama di negeri ini. Ada gema, ada resonansi, bahkan ada gema yang menyentuh luka lama. Indonesia yang telah lama merawat pluralitas sebagai sebuah berkah kini seolah harus kembali bercermin: seberapa kokoh bangunan kerukunan kita?
— Edi Pur | Opini Redaksi
Dr. Zakir Naik memang bukan nama asing. Di dunia Islam global, ia dikenal sebagai pengkhotbah flamboyan yang menempuh jalan perbandingan agama dengan retorika logika. Ia mendebat, menjawab, dan menjelaskan keyakinan Islam sambil menyandingkannya dengan agama lain. Dalam istilahnya, ini adalah cara “meluruskan kesalahpahaman.” Tapi di mata sebagian yang lain, cara ini tidak selalu menenangkan, malah bisa menciptakan kegaduhan.
Bagi sebagian umat Islam, kehadiran Zakir Naik ibarat kehadiran Ahmad Deedat yang kembali bernapas. Ia dianggap pelita di zaman gelap, pelurus akidah generasi muda yang mulai tergerus oleh arus relativisme agama. Tapi bagi umat lain — Nasrani, Hindu, Buddha — kehadirannya di Indonesia membawa kecemasan. Narasi perbandingan agama yang tajam, seakan membuka lembar baru dalam sejarah relasi antariman yang telah lama dijahit dengan benang sabar.
Maka, bukan hal aneh jika media sosial riuh atas kehadiran Zakir Naik. Sebelum kedatangannya, toleransi negeri ini diuji oleh peristiwa perusakan Villa tempat retret di Cidahu. Dan pada acara Zakir Naik di Stadion Gajayana Kota Malang, sejumlah kegelisahan disampaikan. Beberapa kelompok menyatakan keberatan secara terbuka. Mereka tidak menuntut lebih, hanya memohon didengar: “Kami tidak ingin kerukunan yang sudah rapuh ini retak hanya karena satu tokoh yang tak memahami konteks kami.”
Saya mencoba memahami keresahan ini. Zakir Naik mungkin bukan musuh, tetapi narasinya — yang mempertentangkan agama — menyentuh ranah paling privat: keyakinan. Di negeri yang menempatkan agama sebagai dasar etik sosial, bukan ruang debat akademik, pendekatan perbandingan agama bisa menjadi pisau bermata dua. Ia bisa mencerahkan, tapi bisa pula menyayat.


