SANA’A — Pusat Meteorologi Nasional Yaman mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem pada Kamis (8/8), setelah hujan lebat dan banjir bandang melanda negara itu selama tujuh hari terakhir. Sedikitnya 45 orang dilaporkan tewas, sementara ribuan lainnya terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Pusat Meteorologi memperingatkan warga di dataran tinggi tengah serta sepanjang pesisir barat dan selatan untuk tidak berkendara melewati atau berada di sekitar aliran air dan lembah, mengingat kondisi yang berbahaya.
Di Provinsi Hodeidah, salah satu wilayah yang terdampak paling parah, sebanyak 30 orang dilaporkan Arab News meninggal dunia. Ribuan warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka. Gubernur Hodeidah, Mohammed Guhim, menyatakan bahwa lima orang masih hilang, dan hujan serta banjir telah memengaruhi ribuan penduduk yang tinggal di sekitar 500 properti.
Pada hari yang sama, Brigade Raksasa, sebuah kelompok milisi pro-pemerintah, melaporkan seorang tentaranya tewas dan dua orang lainnya hilang setelah kendaraan mereka terseret banjir di wilayah Hays, Hodeidah.
Gambar dan video yang beredar di media sosial menunjukkan hujan deras menggenangi sejumlah distrik di Hodeidah, menyebabkan banjir yang merusak rumah-rumah, memutus akses ke berbagai lokasi, serta menghanyutkan jalan, kendaraan, dan tanaman pertanian. Mayat korban banjir ditemukan di berbagai tempat di Hodeidah, sementara warga setempat meminta bantuan.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mengonfirmasi pada Rabu (7/8), bahwa hujan lebat telah berdampak signifikan terhadap ribuan warga di Hodeidah, menewaskan puluhan orang, serta menyebabkan banyak orang hilang dan terluka. Bencana ini juga merusak rumah dan infrastruktur di berbagai wilayah.
Di Distrik Maqbanah, Taiz, banjir pada 2 Agustus lalu menewaskan 15 orang dan memaksa 10.000 orang mengungsi. Banjir juga mengubur setidaknya 80 sumur, menghanyutkan lahan pertanian, serta merusak rumah dan infrastruktur. Kondisi serupa juga terjadi di provinsi Hajjah, Mahweet, dan Raymah.





