Wajah Warga Indonesia Kurang ‘Glowing’, BKKBN: Itu Karena Stres dan Ketidakpastian Hidup

BKKBN menyebut wajah masyarakat Indonesia tampak kurang glowing akibat tingginya hormon stres yang dipicu tekanan ekonomi. Solusinya: batin tenang, isi perut kenyang, bukan sekadar skincare.

__________

Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN, Budi Setiyono, menyebut wajah masyarakat Indonesia tampak kurang bercahaya alias kurang glowing akibat tingginya kadar hormon stres seperti kortisol. Hal ini dipicu oleh tekanan hidup sehari-hari, terutama terkait persoalan ekonomi dan ketidakpastian masa depan.

“Kenapa orang Eropa atau warga negara maju wajahnya lebih charming, glowing? Itu karena mereka tidak punya kekhawatiran menghadapi disrupsi kehidupan,” ujar Budi dalam diskusi bersama media di Ambarawa, Semarang, Jumat, 25 Juli 2025.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, kondisi ini berbeda jauh dengan realitas di Indonesia, di mana masyarakat masih bergulat untuk mencukupi kebutuhan dasar sehari-hari.

“Jadi, bukan semata DNA. Di kita, pengaruhnya besar dari hormon stres atau kortisol yang otomatis keluar saat ada ancaman, kelaparan, ketidakpastian. Saat itu, hormon kortisol bergerak,” jelasnya.

Kortisol adalah hormon alami tubuh yang muncul saat seseorang mengalami stres. Jika kadarnya tinggi dan berlangsung terus-menerus, hormon ini dapat memengaruhi kondisi kulit dan penampilan, membuat wajah terlihat lelah dan kusam.

Budi menambahkan, untuk mengatasi hal tersebut, Kemendukbangga/BKKBN tak hanya fokus pada program keluarga berencana. Mereka juga menggulirkan program peningkatan kesejahteraan seperti penyediaan makanan bergizi, pemberdayaan ekonomi melalui koperasi lokal, dan peningkatan akses pendidikan.

“Kami percaya, jaminan hidup yang layak akan membebaskan masyarakat dari kekhawatiran dasar. Ketika stres berkurang, penampilan fisik pun akan menjadi lebih sehat dan bercahaya,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya jaminan penghasilan yang layak, pendidikan dasar 12 tahun, serta sertifikat kompetensi agar masyarakat mampu bersaing di pasar kerja. Ini penting mengingat pada 2045, diperkirakan 30 persen penduduk Indonesia akan berusia lanjut.

Pos terkait