Indonesia dan Ketergantungan yang Dipelihara
Sementara itu, Indonesia berjalan ke arah sebaliknya. Sejak Orde Lama hingga kini, wacana diversifikasi pangan nyaris tak pernah absen dari pidato kebijakan. Namun praktik di lapangan berkata lain. Ketika beras dianggap tak cukup, jawaban yang dipilih bukan jagung, sorgum, sagu, sukun, atau uwi—melainkan gandum yang harus diimpor.
Pada 2012, impor gandum Indonesia mencapai jutaan ton dengan nilai puluhan triliun rupiah, menempatkan Indonesia sebagai salah satu pengimpor gandum terbesar dunia. Ketahanan pangan pun rapuh, bergantung pada pasar global dan cuaca geopolitik. Di saat yang sama, uwi—yang varietasnya melimpah di Nusantara—dibiarkan telantar. Dari sekian spesies Dioscorea, yang tersisa dalam ingatan kolektif hanya gembili dan gadung, itu pun terbatas.
Belajar dari yang Pergi
Kisah uwi adalah cermin pilihan. Dunia membuktikan bahwa pangan lokal yang dirawat bisa menjadi fondasi kemandirian. Jepang merapikan, Filipina mengolah, Nigeria membesarkan. Indonesia, sebaliknya, melupakan.
Barangkali sudah waktunya negeri ini “bertobat”—bukan dengan romantisme masa lalu, melainkan dengan keberanian kebijakan. Uwi tidak meminta dipuja; ia hanya perlu dirawat. Dan jika Nigeria bisa hidup tanpa beras, pertanyaannya bukan apakah Indonesia mampu, melainkan mengapa ia memilih tidak mencoba.***





