Sekolah yang ia bangun mengguncang pandangan adat dan kolonial. Diniyyah Putri tumbuh menjadi pusat pendidikan perempuan Islam modern, menarik murid dari berbagai daerah. Rahmah bahkan menerima gelar kehormatan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar, Kairo, pada 1957 — satu-satunya perempuan di dunia yang pernah menerimanya kala itu.
Selain pendidik, Rahmah juga politisi. Ia duduk di parlemen melalui Partai Masyumi pada 1955, memperjuangkan moralitas dalam politik. Bagi Rahmah, pendidikan dan kekuasaan harus sama-sama berakar pada akhlak.
Rahmah wafat pada 26 Februari 1969. Namun semangatnya hidup lewat Diniyyah Putri yang kini berusia seabad, tetap menjadi simbol kemajuan perempuan dan pendidikan Islam modern. “Jangan menunggu zaman berubah; jadilah perempuan yang mengubah zaman,” pesannya — kalimat yang kini bergema lintas generasi.
Baca sepak terjang Rahmah El Yunusiyyah selengkapnya di sini.





