Karena prosedur. Karena urutan dokumen. Karena diskresi yang tak dibungkus kertas formal. Dalam sistem birokrasi yang lebih takut salah ketimbang ingin benar, hal ini adalah dosa besar.
Ini bukan soal membela Tom Lembong secara personal. Tapi soal bahaya preseden. Jika kebijakan yang lahir dari forum resmi negara bisa dibatalkan dan dihukum bertahun-tahun kemudian hanya karena melangkahi mekanisme administratif, maka semua pejabat hari ini sedang berjalan di tambang ranjau.
Kita tahu, dalam birokrasi Indonesia, ada dua hal yang selalu tumpang tindih: urgensi dan prosedur. Pejabat yang menunggu semua izin beres, semua kementerian sepakat, semua surat lengkap, sering kali tidak akan pernah bisa bertindak. Tapi mereka aman. Karena tidak berbuat apa-apa lebih mudah daripada menjelaskan mengapa sesuatu harus segera dilakukan.
Putusan terhadap Tom bisa membuat para pengambil kebijakan di seluruh Indonesia berpikir ulang. Mengapa ambil risiko? Mengapa berani membuat keputusan, jika pada akhirnya bisa diseret karena alasan prosedural, bahkan bertahun-tahun setelah masa jabatan berakhir?
Dengan logika ini, kita sedang membangun budaya birokrasi yang anti-keputusan. Kita menciptakan generasi pemimpin yang tidak berani menyentuh masalah, tidak berani ambil sikap, tidak berani keluar dari barisan. Kita mendorong mereka untuk menjadi pengelak, bukan pemecah masalah.
Tom Lembong menyebut dirinya sebagai “tumbal politik dari kebijakan bersama.” Pernyataannya mencerminkan rasa frustrasi yang bukan hanya miliknya, tapi milik siapa pun yang pernah menjabat di pemerintahan dan harus membuat keputusan cepat dalam keadaan tidak ideal. Kebijakan publik tidak pernah hitam-putih. Tapi hukum—terutama yang digunakan secara sempit—bisa sangat absolut.
Ini bukan pembelaan terhadap pelanggaran aturan. Tapi ini adalah seruan agar hukum bisa membedakan antara niat jahat dan keputusan kebijakan. Antara korupsi dan ketidaksempurnaan. Antara pencurian uang dan kesalahan tafsir prosedur. Kalau semua disamaratakan, maka kita tak hanya menghukum orang—kita membunuh semangat untuk memimpin.




